RADAR JOGJA – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sleman siap fasilitasi pemilih. Baik yang ada di rumah sakit, fasilitas kesehatan darurat Covid-19, lembaga pemasyarakatan (lapas), rumah tahanan (rutan) hingga barak pengungsian bencana Merapi.

Kepala KPU Sleman Trapsi Haryadi menjelaskan, nantinya masyarakat yang berada di rumah sakit maupun tempat karantina milik pemerintah, akan tetap dilayani untuk bisa memilih kepala daerah. Petugas akan diambilkan dari tempat pemungutan suara (TPS) terdekat. “Difasilitasi Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dari TPS sekitar dan dilayani setelah pukul 12.00,” katanya Senin (7/12).

Petugas juga akan dibekali dengan alat pelindung diri berupa hazmat saat melakukan pelayanan di rumah sakit dan fasilitas kesehatan darurat Covid-19. Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Gugus Tugas setempat agar tidak tertular Covid-19 saat melakukan pelayanan. “Lapas, rutan juga sudah koordinasi dengan kepolisian. Prinsipnya akan memfasilitasi warga Sleman yang sedang menjadi warga binaan di lapas,” kata Trapsi.

Untuk masyarakat yang sedang melakukan isolasi mandiri di rumah, Trapsi juga memastikan akan melakukan pelayanan dari KPPS setempat. Petugas juga akan dibekali dengan alat pelindung diri saat bertugas. Oleh karena itu, masyarakat juga tidak perlu khawatir terkait petugas saat coblosan nanti. Dipastikan petugas sudah dalam kondisi sehat. Sebelumnya telah dilakukan rapid test bagi petugas. “Yang reaktif dan positif saat tes usap dilakukan pergantian petugas,” lanjutnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Joko Supriyanto menuturkan, pihaknya telah menyiapkan tenda untuk nantinya digunakan sebagai TPS di Barak Pengungsian Balai Kalurahan Glagaharjo. TPS tersebut adalah TPS pindahan dari Kalitengah Lor. “Nanti warga yang belum mengungsi akan melakukan pemilihan di barakm,” katanya.

Joko menyebut masyarakat tidak perlu khawatir terkait persebaran Covid-19 saat perpindahan TPS dilakukan. Mengingat wilayah Kalitengah Lor serta Glagaharjo yang masih zona hijau. Untuk KPPS juga dipastikan aman dari Covid-19 karena berasal dari masyarakat setempat. “Didukung melakukan prokes ketat,” jelasnya.

Ada Tiga TPS Bayangan di Mlati

Kapanewon Mlati akan memiliki tiga TPS bayangan. Terletak di RSUP Dr Sardjito dan fasilitas kesehatan darurat Covid-19, yakni Rusunawa Gemawang serta Asrama Haji.

Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Mlati Jami Hermanto menjelaskan, TPS di wilayahnya berjumlah 182. TPS bayangan di RSUP Sardjito akan didukung TPS dari Sendowo. Dari 4 TPS itu akan ada satu hingga dua TPS yang akan mendukung adanya TPS bayangan. Hal tersebut akan disesuaikan dengan jumlah pendaftar fomulir A5. Sedangkan untuk Rusunawa Gemawang akan didukung TPS di wilayah Gemawang, serta Asrma haji akan diikutkan TPS Pogung Lor.

Surat suara untuk TPS bayangan akan dipersiapkan dari pergeseran TPS terdekat. Selama dua hari hingga hari ini (8/12), masih akan dibuka pendaftaran pemilih untuk formulir A5. Untuk Sardjito, baru ada 15 pendaftar di hari pertama. Sedangkan di Gemawang dan Asrama Haji masih akan dilakukan pendataan karena pasien yang keluar-masuk.

Hingga Senin (7/12) siang jumlah pasien di Asrama Haji mencapai 80 orang. Hanya saja yang ber-KTP Sleman hanga 38 orang. Sedangkan di Rusunawa Gemawang hanya 44 orang yang ber-KTP Sleman dari total penghuni 54 orang. “Karena bisa daftar formulir A5 dengan syarat KTP Sleman dan terdaftar sebagai DPT,” kata Jami.

Petugas, lanjut Jami, hanya dua petugas dari TPS terdekat dan dibekali dengan alat pelindung diri (APD). Nantinya petugas akan dibantu Gugus Tugas setempat. “Karena petugas lainnya masih akan difouskan bertugas di TPS utama,” lanjutnya.

Sementara itu, Divisi Teknis PPK Mlati Dwi Jatmiko menuturkan, nantinya pemilih akan menuju TPS atau bilik yang sudah disediakan. Waktu pemilihan akan diinstrukskkan agar tidak terjadi kerumunan. “Di lapas akan ada tiga TPS yang disiapkan,” kata Dwi.

Tercatat ada 74 orang di Lapas Cebongan. Namun baru 39 orang yang sudah masuk dalam DPT. Untuk petugas di empat tempat khusus itu, Dwi mengaku masih akan mengkoordinasikan dengan KPPS, PPS, PPK dan KPU terkait kesiapannya.

Sedangkan untuk pasien kritis di RSUP Sardjito, sesuai kajian pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI), tidak diperkenankan untuk melakukan pemilihan. “Karena bahaya untuk keduanya, yakni pasien dan petugas pemilihan,” jelasnya.
Sedangkan untuk wilayah Gemawang dan Asrama Haji, akan didatangi petugas. Mengingat kondisi mereka sehat, meskipun positif Covid-19. “Kalau untuk pasien Covid-19 dengan kondisi sehat, nanti akan dikondisikan oleh tim Covid-19. Untuk teknisnya, masih menunggu,” kata Dwi. (eno/laz)

Jogja Raya