RADAR JOGJA-Hubungan bilateral Republik Indonesia dan Republik Sosialis Vietnam telah berlangsung selama 65 tahun. Hubungan yang terjalin pun makin erat, tidak hanya sekadar terjadi di level pemerintah kedua bangsa.

Hal ini diungkapkan Wakil Gubernur DIJ ,Paku Alam X yang hadir secara daring, mengikuti acara Peringatan Hubungan Bilateral RI-Vietnam ke-65 di DIJ dan Pembukaan Pameran Foto yang diadakan di Grhatama Pustaka, Senin 7/12 . Dalam sambutannya, Paku Alam X mengatakan, hubungan diplomatik Republik Indonesia-Vietnam diawali dengan pembukaan Konsulat Republik Indonesia di Hanoi pada 30 Desember 1955. Selanjutnya, kantor ini menjadi Kedutaan Besar Republik Indonesia pada 10 Agustus 1964.

“Saling kunjung antara Bapak Pendiri Bangsa dari kedua negara menjadi momentum yang sangat bersejarah. Bulan Februari-Maret 1959, Presiden Ho Chi Minh berkunjung ke Indonesia dan pada bulan Juni tahun yang sama Pesiden Soekarno melaksanakan kunjungan balasan,” ujarnya.

DIJ sendiri turut mengambil peran dalam peristiwa bersejarah kedua negara. Pada saat kunjungannya ke Indonesia, Presiden Ho Chi Minh bahkan meluangkan waktu khusus berkunjung ke jogja dan bertemu dengan Sultan Hamengku Buwono (HB) IX.

“Saya menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan Pameran Foto Peringatan 65 Tahun Hubungan Bilateral Republik Indonesia-Vietnam kali ini di jogja. Saya ucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada jogja sebagai wujud komitmen untuk mendukung kemitraan strategis antara kedua negara,” lanjutnya.

Sementara itu, Duta Besar Vietnam untuk Indonesia, HR Pham Vinh Quang yang juga hadir secara daring mengatakan, 65 tahun lalu Indonesia menjadi negara ASEAN pertama yang menjalin hubungan diplomatik dengan Vietnam. Selama lebih dari enam dekade ini, pergolakan politik di ASEAN maupun dunia tidak mempengaruhi hubungan kedua negara.

“Hubungan Indonesia dan Vietnam justru terjalin makin erat, kedua negara tetap menjadi sahabat, dan makin efektif di segala bidang. Sebagai saudara, kita diikat oleh kesamaan identitas dan budaya, dan sejarah perjuangan kemerdekaan kita yang menjadikan kita seperti sekarang,” jelasnya.

Pham Vinh Quang pun menyinggung kunjungan Presiden Ho ke Jogja pada 1959. Kunjungan kala itu lebih didasari oleh pemikiran tentang Jogja sebagai perwujudan cita-cita luhur kemerdekaan RI. Saat itu Indonesia dan Vietnam tengah memperjuangkan persatuan nasional.

“Saat itu, Hamengku Buwono (HB ) IX mengusung istilah ‘Takhta untuk Rakyat’, di mana beliau mengabdikan takhta dan dirinya untuk kemerdekaan Indonesia. Karena itulah, jogja  terus menjadi bagian yang tidak terpi sahkan dari identitas dan pembangunan Indonesia,” jelasnya.

Pham Vinh Quang menambahkan, dengan slogan ‘Jogja Istimewa’ ia meyakini jogja bisa menyongsong masa depan yang lebih cerah. Untuk itu, sangat penting bagi jogja memajukan kemitraan strategis jogja-Vietnam maupun Indonesia-Vietnam, khususnya di masa setelah pandemi nanti.

“Kami berharap melalui acara seperti ini dapat membuka peluang baru kerja sama berbagai bidang, utamanya perdagangan, investasi, dan pariwisata antara Indonesia-Vietnam maupun Vietnam dengan daerah-daerah seperti DIJ,” ujarnya.

Selain foto-foto dan video kunjungan Presiden Ho Chi Minh ke indonesia dan Presiden Ir. Soekarno ke Vietnam. Pameran ini juga menampilkan keunggulan DIJ, utamanya di bidang ekonomi, sebagai upaya pemulihan ekonomi dan sosial-budaya dalam pranata baru di tengah pandemi CoViD-19.(sky)

Jogja Raya