RADAR JOGJA – Umumnya geplak yang merupakan camilan khas dari Bantul itu berbahan dasar tepung beras dicampur kelapa. Namun, di Kalurahan Bangunkerto, Kapanewon Turi, Sleman, punya ciri sendiri. Geplak dibuat dari buah salak. Seperti apa prosesnya?

Waktu menunjukkan pukul 13.00. Zuhroniyah bersiap-siap menuju kediaman Suhartini, istri ketua RW 29, Dusun Pulewulung, Bangunkerto, Turi. Ya, mereka hendak membuat geplak salak. Saat itu juga Radar Jogja mendatangi lokasi, mengintip dapur ibu RW tersebut.

Lima kilogram salak pondoh siap dikupas. Diambil daging dan dibuang isi (kenthos)-nya. Mereka sangat cekatan memainkan pisau, memilah daging buah salak. Bagian ujung buah dia pangkas tapi masih biarkan kulit ari salak menempel. Proses itu mereka nikmati dengan sesekali bercanda ringan.

“Ini pesanan ketiga selama pandemi Covid-19,” kata Zuhroniah, perempuan usia 47 itu. Ya, warga di dusun itu umumnya mahir membuat salak geplak. Namun, tidak semua konsisten menggeluti olahan salak ini. Antusiasme warga tinggi jika pengunjung destinasi wisata di wilayah tersebut ramai. Atau saat ada even atau bazar tertentu. Biasanya membuka lapak.

Zuhroniah bersama Suhartini dan Harmini membentuk kelompok kecil. Mereka sepakat mengembangkan bisnis kecil mengolah geplak salak. Ya, pangsa pasarnya memang masih kecil. Usahanya baru dipasarkan ke warung-warung sekitar. Juga dia tawarkan melalui media sosial (medsos). “Sementara ini olahan masih terbatas. Soalnya serba manual,” terang Zuhroniah, sembari mengupas daging salak.

Salak 5 kg jika diolah menjadi geplak tinggal 3 kg. Ukurannya sepadan dengan kelereng. Setelah dikupas, lalu ditimbang guna mencocokkan jumlah dan hasil. Selanjutnya dicuci bersih dan siap rebus. Saat perebusan dicampur parutan kelapa dari empat buah kelapa sedang, dan 2 kg gula pasir. Kelapa tidak terlalu muda dan tua. “Itu agar teksturnya pas. Tidak lembek dan tidak terlalu kasar,” ujarnya.

Dikatakan, kalau memakai kelapa muda, geplak tidak awet. “Geplak dengan kelapa yang pas dapat bertahan hingga tiga bulan lebih,” tambah Suhartini, 48.
Di dapur yang rumayan luas itu mereka mengolah geplak. Perebusan membutuhkan waktu lima jam. Memasaknya di atas tungku. Menggunakan kayu dan ranting kering yang mungkin mereka dapatkan dari perkebunan sekitar.

Diaduk-aduk penuh semangat. Hingga adonan salak benar-benar mengering. Setelahnya, tanpa menunggu lama adonan dibentuk bulat. Sebesar ukuran kelereng. Diusahakan pembentukan dilakukan selagi adonan masih panas. Sebab jika sudah dingin, maka adonan akan mengeras.

Terakhir, setelah geplak bulat itu dingin, tahap selanjutnya pengemasan. Dibungkus menggunakan plastik permen payung berbentuk kerucut. Kemudian dihiasi pita kecil agar menarik. Satu kilogram geplak diberi harga Rp 50 ribu. “Ini usaha inisiatif. Dirintis dua tahun lalu,” kata Suhartini.

Mereka berharap rintisan usaha ini dapat berjalan lancar. Sembari pengajuan izin produksi pangan industri rumah tangga (PIRT). Agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Demikian juga dapat membuka peluang usaha mengangkat potensi wilayah itu sekaligus perekonomian warga. (mel/laz)

Jogja Raya