RADAR JOGJA – Pengamat tari sekaligus dosen Jurusan Seni, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Jogjakarta Uti Setiastuti menyebut, ledhek merupakan penari wanita dengan sistem barangan. Menari berkeliling kampung dengan iring-iringan gamelan ala kadarnya. Biasanya, tarian ini dimainkan enam hingga delapan orang. Terdiri atas empat hingga lima penabuh gamelan dan sisanya penari.

Konon, kesenian ledhek sudah familiar sejak 1970-an. Jika di Jogjakarta kerap disebut ledhek. Di Jawa Tenggah dan Jawa Timur kerap di sebut ronggeng. Biasanya dipentaskan dari rumah ke rumah, berdasarkan si pemesan.

Dikatakan, ledhek merupakan salah satu hiburan yang digemari orang yang memiliki strata sosial lebih tinggi. Sebab, hanya kalangan orang kaya saja yang bisa mengundang atau menggelar pertunjukan ledhek. Kendati begitu, profesi ledhek dikonotasikan negatif. Sebab, mengandung hal sakral, juga dinilai lekat dengan prostitusi.

“Dulu ledhek merupakan perhelatan ritual,” ungkap Uti saat dihubungi Jumat (4/11). Bahkan kerap mewarnai kegiatan merti dusun ataupun desa. Namun dalam hal ini peranan ledhek tak sekedar menjadi hiburan. Tetapi sebagai media komunikasi ataupun interaksi dengan hal tak kasat mata di wilayah itu.
“Juga berbau mitos dan mistis,” katanya. Ledhek sering disebutkan dengan penari yang memiliki susuk atau ilmu pemikat. Bahkan ada yang mempercayai ciuman ledhek bisa membuang energi negatif. Termasuk dalam hal membangkitkan kesuburan.

Dijelaskan, tarian ini dimainkan dengan pola berbeda dari penari umumnya. Awalnya dimainkan dengan tari tradisional gambyong, kemudan tarian dari masing-masing penari. Hingga diakhiri tarian bersama atau ngibing layaknya tayup diikuti saweran-saweran. Dari sinilah mereka memperoleh penghasilan. Selain dibayar karena undangan, mereka juga dibayar lewat sawer. “Itu dari sisi buruknya,” ucap perempuan asal Sewon, Bantul, ini.

Nah, tari-tarian yang dimainkan setelah diawali dengan tarian tradisi, dilanjutkan tarian bebas. Menyesuaikan lagu yang dibawakan wiraga. Bahkan ledhek tak hanya menari sesuai irama. Tapi turut menyanyi. Adapun ricikan gamelan yang biasa digunakan untuk mengiringi tarian ledhek yaitu, kendhang, saron, kempul-kethuk, bonang hingga gong sebul dari bambu.
“Kalau di Jogja ya terkenalnya ledhek asal Wonosari, Gunungkidul,” katanya. Kendati begitu di wilayah lain juga banyak. Seperti di Wonosobo, Blora, dan lain-lain.

Meskipun ada nilai negatif, ledhek bagian budaya. Lambat laun istilah negatif ledhek berupaya dihilangkan. Seiring dengan tumbuhnya penari-penari baru yang dikemas dengan profesional. Dengan koreografer dan konsep-konsep baru.
Namun juga bukan berarti ledhek tidak profesional. Justru tarian ledhek punya nilai plus totalitas dan penjiwaan yang tinggi. Sebab, ditarikan tanpa terikat koreografi dan memiliki insting kuat sesuai irama lagu yang dibawakan. “Lebih pinter dan multitalent, bisa menghafal langgam-langgam yang dimainkan. Rohnya lebih muncul,” tandasnya. (mel/laz)

Jogja Raya