RADAR JOGJA – Hari ini (5/12) Gunung Merapi tepat satu bulan berstatus siaga. Status level III itu sudah melekat pada Merapi sejak 5 November lalu. Kini timbul pertanyaan, apakah Merapi akan benar-benar meletus atau tidak.

Menjawab hal itu, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta, Hanik Humaida memberikan gambaran. Ia pun membandingkan aktivitas Merapi saat ini dengan Merapi ketika erupsi tahun 2001, 2006, dan 2010 lalu.

Dijelaskan Hanik, pada 2001 dan 2006 misalnya, status siaga Merapi kala itu berlangsung kurang lebih satu bulan. Sementara untuk status awas (level IV atau tertinggi) di tahun 2001 berlangsung dua minggu saja. Agak berbeda dengan yang 2006, di mana status awas berlangsung dua bulan.

Pada tahun 2001 dan 2006 Merapi erupsi dengan sifat efusif atau lelehan. Berbeda dengan tahun 2010 di mana kala itu Merapi meletus secara eksplosif. Status siaga kala itu hanya bertahan lima hari saja, sementara status awas mencapai satu bulan.

“Erupsi dengan sifat efusif memang memiliki ketidakpastian waktu yang lebih besar dibandingkan dengan yang eksplosif. Makanya status siaga kali ini cukup lama,” kata ahli gunung api ini kepada wartawan Jumat  (4/12).

Lebih lanjut Hanik menjelaskan, aktivitas Merapi saat ini masih tinggi. Hal tersebut yang membuat pihaknya masih akan melabeli gunung api yang ada di perbatasan DIJ dan Jawa Tengah itu dengan status siaga.

Hanik juga menjelaskan potensi bahaya terbesar yang bisa terjadi jika erupsi Merapi nantinya benar-benar terjadi. Menurutnya, wilayah barat dan barat laut Merapi merupakan wilayah yang paling berpotensi terkena dampak Merapi.

Kendati demikian, wilayah selatan dan tenggara juga tak luput dari bahaya. Terutama bahaya jika Merapi mengeluarkan awan panas. “Bukaan kawah itu ke Kali Gendol yang mengarah ke selatan dan tenggara, yang sudah ada jalannya ke sana. Kalau ada awan panas, juga bisa ke selatan dan tenggara,” jelasnya.

Hanik pun mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti setiap anjuran dari BPPTKG. Seperti tidak melakukan aktivitas di lokasi yang dinilai berbahaya. Selain itu, masyarakat juga harus lebih cerdas dalam menerima dan menyebarkan informasi apa pun mengenai kondisi terkini Gunung Merapi. (kur/laz)

Jogja Raya