RADAR JOGJA – Beberapa kemungkinan bahaya dampak erupsi Gunung Merapi terus diantisipasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman. Termasuk ancaman bahaya letusan ke sisi barat yang bisa menuju ke dua kapanewon, yakni Pakem dan Turi.

Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Sleman Joko Lelono mengatakan, sosialisasi yang diberikan kepada warga di dua kapanewon yakni Pakem dan Turi bukan tanpa alasan. Berdasarkan catatan BPBD Kabupaten Sleman, beberapa kali guguran material Merapi juga mengarah ke sisi barat.

“Beberapa kali guguran ke arah barat dan jaraknya cukup jauh sampai tiga kilometer. Jika dibandingkan dengan sisi timur, sisi barat memang berbeda. Kalau di wilayah barat, kemiringan lerengnya itu terjal sekali,” ujar Joko Kamis (3/12).

BPBD Kabupaten Sleman melalui jaringan desa tangguh bencana (Destana) mulai rutin melakukan sosialisasi terkait ancaman bahaya Merapi ke masyarakat di sisi barat. “Makanya sosialisasi yang dilakukan BPDB kepada desa tangguh bencana yang sudah kami bina, untuk segera mempersiapkan terhadap ancaman bahaya itu,” terang Joko.

Gunung Merapi sendiri terus menunjukkan aktivitas setiap harinya. Dalam periode pengamatan Kamis (3/11) pukul 00.00-06.00 misalnya, terdengar dua kali suara guguran dari Babadan, Kabupaten Magelang. “Terdengar dua kali suara guguran dari PGM Babadan. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi 30 meter di atas puncak kawah,” ungkap Kepala Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaida.

Kendati demikian, BPPTKG memastikan belum ada muntahan lava dari puncak Merapi sejak statusnya naik menjadi siaga. Adapun guguran yang terjadi beberapa kali bukan guguran lava, namun guguran material vulkanik sisa erupsi sebelumnya.

Posko PPA untuk Antisipasi Kekerasan

Posko Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) di Barak Pengungsian Glagaharjo, Cangkringan, diharapkan bisa mencegah terjadinya kekerasan. Hal ini karena tidak menutup kemungkinan kekerasan fisik, psikis, serta seksual terhadap anak dan perempuan di barak pengungsian terjadi.

Petugas Posko PPA Agus Ruyanto menjelaskan, Posko PPA telah diaktifkan sejak Barak Glagaharjo difungsikan. Didirikannya posko itu karena adanya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di tempat pengungsian saat erupsi Merapi 2010 dan gempa bumi 2006. “Hanya saja kasus itu tidak dilaporkan,” jelas Agus Kamis (3/12).

Dalam beberapa kasus sebelumnya, kata Agus, pelaku kekerasan justru dari pihak luar tempat pengungsian. Meskipun demikian, sejauh ini belum ada laporan dari pengungsi terkait tindakan kekerasan terhadap perempuan maupun anak.

Tidak hanya menerima laporan kekerasan, Posko PPA yang ada akan memberikan pendampingan belajar. Serta ikut mengajak anak-anak di barak pengungsian untuk bermain. Hal ini dilakukan untuk antisipasi anak-anak yang merasa bosan setelah hampir satu bulan di pengungsian.

Oleh karena itu, pihaknya juga mulai memberikan kegiatan di barak pengungsian. Seperti memberikan pelatihan pengolahan sampah dari plastik untuk kalangan ibu-ibu, serta membaca dongeng bagi anak-anak. “Kegiatan seperti ini penting untuk menghilangkan jenuh,” kata Agus.

Anggota Satgas PPA Desa Umbulmartani, Ngemplak Sri Maryati menambahkan, Posko PPA buka pukul 08.00 sampai 18.00. Petugas akan bergantian setiap hari untuk berjaga. “Kalau dari Satgas PPA desa, yang dilibatkan hanya dari Ngemplak dan Cangkringan,” ungkapnya. (kur/eno/laz)

Jogja Raya