RADAR JOGJA – Karena ada warga yang tidak disiplin, sebanyak 250 jiwa harus dibatasi aktivitas sosialnya. Seperti saat awal pandemi kemarin. Jumlah ini merupakan warga satu RW 15 Juminahan, Tegalpanggung, Danurejan pasca-adanya satu keluarga yang terpapar Covid-19.

Camat Danurejan Antariksa Agus Purnama menyebut, meski, kasus Covid-19 yang muncul dalam satu RT namun agar lebih memudahkan dalam pengaturan dan pemantauan masyarakat. “Kami buat satu RW semi lockdown artinya mereka yang masih mempunyai kepentingan bekerja boleh beraktivitas tapi harus minta keringanan tidak full seharian,” katanya Rabu (2/12).

Agus menjelaskan kegiatan pembatasan aktifitas sosial kemasyarakatan itu dilakukan serentak di RT 59, 60, 61, dan 62. Warga sudah mulai sejak Minggu (22/11) merupakan kesadaran dari wilayah. Dan sejak Selasa (24/11) terhitung dari surat keterangan Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja. “Jadi 3 Desember (hari ini) sudah terakhir, sudah 10 hari dari 24 November,” ujarnya.

Pembatasan sosial ini tidak dilakukan full. Namun diberikan keringanan bagi yang berkepentingan bekerja maupun berbelanja kebutuhan sehari-hari. Dalam pembatasan sosial ini hanya ada satu akses di setiap wilayah pintu RW. Dan ada penjagaan ketat dari tim Satgas Kecamatan di lapangan. “Mereka yang ingin keluar belanja atau ambil barang menunjukkan identitas. Pembatasan keluar rumah sampai pukul 22.00, setelah itu pintu sudah dikancing. Tidak boleh keluar masuk, kalau tidak perlu mendesak tidak boleh keluar,” ujarnya.

Pun warga yang berkepentingan bekerja juga diminta jam kerjanya agar dikurangi. Dari yang biasanya sampai full jam kerja, agar bisa pulang lebih awal. Ini karena masih dalam kondisi pembatasan aktivitas sosial kemasyarakatan.

Selain itu, sosialisasi terus akan diintensifkan. Meskipun sudah rutin dilaksanakan setiap tiga kali dalam seminggu. Yaitu memutar ke seteiap permukiman warga untuk memotivasi dan mengingatkan agar menjalankan 4M.

“Untuk mengkondisikan wilayah, dari RW lebih banyak berperan. Karena secara umum sudah tidak ada penjagaan 24 jam lagi, hanya mengingatkan saja,” jelas mantan Camat Gedongtengen itu.

Sebelumnya, kasus Covid-19 terjadi dalam satu keluarga di salah satu RT di RW 15 Juminahan Tegalpanggung tersebut. Diduga ada salah satu anggota keluarga bekerja ke luar kota. “Diduga wira wiri Jogja-Jatim, mereka kurang menyiapkan protokol dalam keluarga sehingga menularkan yang lainnya,” paparnya.

Ke-16 orang tersebut tinggal dalam satu rumah dan dinyatakan positif Covid-19. Sebelumnya isolasi mandiri di shelter Bener Tegalrejo. “Dan yang satu keluarga sekarang sudah pulang dari shelter. Tapi masih ditambah lagi isolasi mandiri di rumah,” tambahnya.

HP juga mengakui, November lalu kemunculan klaser di Kota Jogja tidak begitu banyak. Hanya, kasusnya saja yang masih fluktuatif. Artinya tidak semua kasus itu saling berhubungan. Hal itu menunjukkan bahwa sebaran Covid-19 semakin merata. “Memang dari kasus-kasus kita sebagain besar itu ada riwayat perjalanan luar kota baik mereka yang datang ke Jogja maupun mereka yang keluar dari Jogja sama-sama berpotensi membawa virus,” katanya.

Karena itu, disiplin terhadap prokes 4M menjadi satu-satunya pertahanan saat ini agar tidak mudah terpapar Covid-19. “Kami tidak bisa melakukan lebih dari itu di masa-masa seperti ini kecuali 4 M itu. Aktivitas akan lebih aman dan nyaman,” pesannya. (wia/pra)

Jogja Raya