RADAR JOGJA – Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja melalui Satgas Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) menambah kapasitas tempat tidur isolasi pasien. Tercatat ada penambahan 68 tempat tidur di 7 rumah sakit rujukan Covid-19. Sehingga akumulasi total jumlah tempat tidur isolasi menjadi 217 unit.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi mengatakan penambahan kapasitas berdasarkan evaluasi berkala. Tercatat saat ini tempat tidur bagi pasien Covid-19 telah terisi 95 persen. Baik untuk ICU maupun ruang isolasi.

“Tadi kami ketemu dengan 7 pimpinan rumah sakit rujukan Covid-19 di Kota Jogja. Koordinasi untuk penambahan bed (tempat tidur) dan disepakati ada tambahan 68 bed,” ujarnya ditemui di Kantor Pemkot Jogja, Rabu (2/12).

Ketujuh rumah sakit rujukan Covid-19 adalah RSUD Kota Jogja, RS PKU Muhammadiyah Jogja, RS Panti Rapih. Adapula RS Bethesda, RS Pratama, RS Siloam dan RS DKT Dr. Soetarto.

Heroe memastikan penambahan tempat tidur tetap mengacu persyaratan medis. Terlebih fungsinya memang sebagai isolasi dan perawatan pasien Covid-19. Agar proses penyembuhan pasien lebih optimal dan tuntas.

“Semua tambahan itu tetap mengikuti persyaratan yang diperlukan bukan asal nambah kamar. Wajib layak dan memenuhi syarat untuk perawatan pasien Covid-19,” katanya.

Wawali menambahkan, Penambahan fasilitas medis Covid-19 mengacu pada Surat Edaran Ditjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes. Setiap rumah sakit rujukan Covid-19 diminta menambah alokasi 30 persen dari kamar yang tersedia. Untuk kemudian dialihkan fungsi menjadi kamar perawatan pasien Covid-19.

Berdasarkan data Satgas Covid-19 Kota Jogja, ketujuh rumah sakit memiliki kapasitas 1.337 kamar tidur. Dari total tersebut ada 149 unit yang terpakai sebagai fasilitas medis Covid-19. Adanya penambahan 68 kamar membuat kapasitas total menjadi 217 unit.

“Maka penambahan 30 persen dari kapasitas itu harus disiapkan. Komitmen dari seluruh pimpinan (rumah sakit rujukan) sudah menyiapkan. Sebagai antisipasi jikalau ada lonjakan kasus,” tambahnya.

Disatu sisi penambahan kapasitas menyisakan pekerjaan rumah tersendiri. Penambahan kapasitas tempat tidur harus dibarengi dengan kapasitas tenaga kesehatan. Apabila tak berimbang, penanganan pasien Covid-19 justru tak efektif.

“Kami tidak bisa asal nambah, tetap perhatikan persyaratan kamar. Termasuk ketersediaan SDM agar ada yang menangani. Perlu intensifikasi terhadap kemampuan SDM, kalau hanya sekadar nambah bisa tapi kemampuan SDM yang belum siap,” katanya.

Sementara itu, Kabid Pelayanan Kesehatan Dinkes Kota Jogja Lana Umwama menegaskan penambahan kapasitas kamar tidur berdasarkan kajian medis. Adanya pilihan rawat isolasi mandiri ternyata tak efektif. Selain teknik pengobatan juga pengawasan medis yang tak ketat.

Lebih dari itu, kunci utama adalah kedisiplinan protokol kesehatan (prokes). Karena, kesadaran masyarakat masih tergolong rendah. Mulai dari cuci tangan, berjaga jarak hingga penggunaan masker masih kerap luput.

“Mau berapapun tambah kamar atau bed tapi kalau perilaku tidak berubah maka tidak akan mencukupi. Kuncinya memang kesadaran masyarakat dalam menerapkan prokes Covid-19,” tegansya. (dwi/sky)

Jogja Raya