RADAR JOGJA – Naiknya status Gunung Merapi menjadi level III atau siaga berdampak pada turunnya wisatawan di lereng Merapi. Meskipun tempat wisata itu berada di luar jarak bahaya yang telah ditentukan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta.

Direktur Utama PT Anindya Mitra Internasional (AMI) Dyah Puspitasari mengaku, penurunan wisatawan terjadi di Taman Kaliurang. Meskipun tempat wisata masih dinyatakan aman dan berjarak lebih dari 6 km dari puncak Merapi. Penurunan itu mencapai 80 persen.

Sebelumnya, pengunjung di Taman Kaliurang setiap hari bisa mencapai 1.000 orang. Sepinya destinasi Taman Kaliurang digunakan untuk menata kembali kawasan wisata. Seperti menggarap spot selfie baru untuk pengunjung yang berbasis alam, dan ratusan storytelling yang akan dikembangkan di kawasan ini.
Selain mengelola Taman Kaliurang, PT AMI juga mengelola Tlogo Putri. Mengalami penurunan pengunjung pula, saat ini pihaknya bersama Pemkab Sleman melakukan terobosan. Dengan membuat branding baru kuliner yakni nasi goreng rempah Tlogo Putri, menggunakan bahan rempah khas kecombrang.

“Pembinaan kepada para pedagang di kawasan Tlogo Putri agar bersiap untuk menerima kembali kedatangan wisatawan setelah kondisi mulai pulih sudah dilakukan,” jelas Dyah Senin (30/11).

Dalam pengembangannya itu, lanjut Dyah, ratusan bibit kecombrang sudah dibagikan kepada masyarakat sekitar Kaliurang untuk dibudidayakan. Menurutnya, bunga kecombrang selama ini sudah dikenal oleh masyarakat Kaliurang dan dulu mudah didapatkan. Namun kini tanaman tersebur sudah mulai berkurang, sehingga perlu dikembangkan lagi untuk mendukung rebranding kuliner.

Saat ini, penjual di wilayah Tlogo Putri hanya satu-dua orang yang masih berjualan. Oleh karena itu, Dyah masih berupaya untuk mengajak para pedagang untuk bersiap-siap jika keadaan sudah membaik. Mengingat Tlogo Putri adalah daerah transit untuk wisata di Kaliurang.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian, Pengabdian Masyarakat, dan Kerjasama (P3MK) Universitas Mercu Buana Jogjakarta Awan Santosa menuturkan, adanya pandemi Covid-19 dan naiknya status Merapi yang berpengaruh pada pariwisata, pengelola objek wisata perlu mengoptimalkan media online atau media sosial. Untuk membagikan update informasi terkait keamanan lokasi wisata mereka yang di luar radius bahaya erupsi Merapi. Serta memberikan informasi dan jaminan bahwa tempat wisata juga menerapkan protokol kesehatan antisipasi Covid-19 secara baik.

Selain itu, kerja sama dengan marketplace dan travel agent juga bisa dilakukan secaran intensif. Pada saat yang sama, tetap melakukan inovasi dan pengembangan produk atau jasa wisata yang sesuai dengan situasi pandemi. Agar perekonomian masyarakat berbasis wisata tetap berputar. “Maka masyarakat atau komunitas perlu senantiasa meningkatkan literasi digital, optimalisasi media digital sebagai sumber belajar,” kata Awan.

Hal itu diperlukan agar mereka dapat mengoptimalkan digital marketing dan inovasi produk atau jasa wisata. Serta melakukan diferensiasi usaha atau produk yang sesuai basis sumber daya lokal dan kebutuhan pasar. Baik di masa pandemi maupun masa normal ke depan. “Digitalisasi bisnis wisata menjadi semakin penting. Hal ini dilakukan terutama melalui optimalisasi pemanfaatan media belajar online,” lanjutnya.

Sementara itu, tempat wisata di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III atau dalam radius 5 km dari puncak Gunung Merapi direkomendasikan untuk tidak beroperasi. Di luar radius itu, tempat wisata diperbolehkan untuk beroperasi.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengamatan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaida mengimbau pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III Gunung Merapi, termasuk kegiatan pendakian ke puncak. “Wisata yang direkomendasikan tidak beroperasi adalah tempat wisata di KRB III. Penutupan ini tergantung kebijakan Pemkab Sleman,” tandasnya.

Rekomendasi dikeluarkan karena ada potensi ancaman bahaya berupa material vulkanik sejauh lima kilometer. “Sebab, dari evaluasi aktivitas vulkanik bisa berlanjut ke erupsi yang membahayakan penduduk,” jelasnya. (eno/tor/laz)

Jogja Raya