RADAR JOGJA – Status siaga atau level III Gunung Merapi sejak 5 November lalu membuat sebagian masyarakat, terutama di wilayah rawan bencana, harus mengungsi. Seperti yang ada di Kalurahan Glagaharjo, Cangkringan, Sleman.

Mereka yang tergolong rentan seperti lansia, ibu menyusui, anak-anak, dan penyandang disabilitas, untuk sementara harus meninggalkan rumah masing-masing. Mereka mengungsi dengan menempati dua bangunan PNPM di belakang Kantor Kalurahan Glagaharjo.

Jumlah mereka lebih dari 200 orang. Berkumpulnya banyak orang di lokasi yang sama tentu menimbulkan kekhawatiran mengenai penularan virus korona. Diketahui sampai saat ini pandemi Covid-19 memang masih belum selesai.

Beberapa upaya sudah dilakukan. Pemasangan sekat dari kayu misalnya. Yang memisahkan tempat tidur pengungsi satu dengan yang lain. Terbaru, ada pula pemasangan air purifier alias pembersih udara di lokasi pengungsian itu.

Air purifier dipasang oleh Taruna Tanggap Bencana (Tagana). Fungsinya untuk menjaga kualitas udara di barak pengungsian agar tetap bagus. Heri Partaya dari Tagana Sleman yang biasa mengoperasikan alat tersebut menjelaskan cara kerja alat ini yang disebutnya cukup sederhana.

Begitu dinyalakan, udara di dalam ruangan akan tersedot dengan bantuan kipas dan ditangkap oleh filter yang terletak di bagian belakang air purifier. Kemudian udara itu disaring melalui filter dan akan disalurkan kembali lewat penyalur yang berada di depan. Udara yang dikeluarkan tentu sudah menjadi segar dan bebas polusi karena debu, kuman, bakteri, partikel sudah disaring terlebih dahulu. “Di sini air purifier-nya juga pakai cairan desinfektan,” katanya.

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman Joko Supriyanto menjelaskan, saat ini pihaknya sudah menyiapkan 12 lokasi yang akan dijadikan barak pengungsian terdampak erupsi Merapi. “Cuma yang sudah kami sekat baru di Gayam, Kuripan, Brayut, dan di Kepuharjo, sisanya menyusul ke lokasi-lokasi lain,” tandasnya. (kur/laz)

Jogja Raya