RADAR JOGJA – Di balik meningkatnya aktivitas Merapi, hotel, vila dan wisma di Kaliurang masih buka. Meski tak dipungkiri hampir tak ada pengunjung wisata yang bermalam dilokasi tersebut.

Ketua Asosiasi Perhotelan Kaliurang (Aspek) Heribertus Indiantara mengungkapkan, ada 303 penginapan di wilayah ini. Jumlah itu meliputi dua hotel berbintang, satu hotel non bintang, 40 wisma dan vila, dan 260 pondok wisata. Total ada dua ribu kamar.

Sejak aktivitas Merapi naik, belum ada yang menutup penginapan tersebut. Bahkan selama Covid-19 penginapan tetap dibuka. Meski beberapa meliburkan lokasi untuk menyiapkan fasilitas terkait tatanan baru pandemi. Sebagaimana protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah, seperti melengkapi tempat cuci tangan, jaga jarak, desinfeksi dan lain-lain.

“Yang pasti selama ini kami tetap buka. Jika ada yang libur itu dari masing-masing penginapan. Dari kami belum ada anjuran ditutup,” ujarnya.
Sementara itu, jika keadaan normal sebelum pandemi, okupansi hotel meraup Rp 1,5 miliar lebih per bulan. Sempat menurun drastis, bahkan nihil kunjungan pada awal terjadi Covid-19 April lalu. Merangkak naik 30 persen hingga 40 persen dari Juni hingga September.

Begitu juga pelaku usaha jeep. Ketua Asosiasi Jeep Wisata Lereng Merapi (AJWLM) Dardiri menyebut, peminat jip turun hampir 75 persen dari jumlah jip yang beroperasi selama pandemi. Total ada 480 jip. Beroperasi di Pakem Cangkringan. Selama pandemi, mulai beroperasi sejak Juni. Namun tidak seluruhnya beroperasi. Tetapi hanya 50 persen saja yang standbye. Sedangkan yang jalan cuma 20-50 jip.

“Hari ini hanya satu sampai dua saja yang jalan,” katanya. Selama peningkatan siaga Merapi, pihaknya menawarkan lima paket di luar radius 5 km dari puncak Merapi. Ada jalur minishot 6,5 km hingga 12 km dari puncak. Meliputi Museum Sisa Hartaku, batu alien di Kepuharjo, Cangkringan. Wisata manuver air Kalikuning, Cangkringan dan terbaru dan paling jauh di Bakalan, Argomulyo, Cangkringan.

Sekali tarik Rp 300 ribu. Belum tentu satu jip narik dalam satu minggu. Sementara jumlah pelaku wisata yang menggantungkan usaha jip ini sekitar 7 ribu orang.

Dikatakan, kondisi seperti ini menjadikan banyak pelaku jip wisata yang beralih profesi. Ada yang beternak, ada pula yang bertahan diri dengan bercocok tanam. “Yang bisa dilakukan ya waspada. Juga menjaga ketahanan pangan,” tandasnya. (mel/laz)

Jogja Raya