RADAR JOGJA- Persoalan pengelolaan sampah di DIJ tengah menjadi persoalan serius yang sedang disorot pemerintah setempat. Gubernur DIJ Sultan HB X mengatakan persoalan penanganan sampah itu kian serius karena saat ini umur teknis Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, di Kabupaten Bantul kian pendek.

Lokasi TPA Piyungan itu selama ini menjadi pusat pengelolaan sampah dari tiga kabupaten di DIJ yakni Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, dan Jogja.
“Diperkirakan TPA Piyungan hanya akan mampu bertahan dua hingga tiga tahun ke depan,” ujar Sultan Senin (30/11).
Sultan menuturkan, pemerintah daerah sebenarnya sudah mengeluarkan regulasi untuk mengatur pengelolaan sampah.
Namun Sultan mengakui bahwa kondisi penyelenggaraan pengelolaan sampah ini masih belum memadai. Sehingga butuh teknologi memadai untuk pengolahannya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) DIJ, Hananto Hadi Purnomo membenarkan jika TPST Piyungan itu hanya bisa menampung sampah hingga dua sampai tiga tahun mendatang.
Menurut Hananto saat ini Pemerintah DIJ sedang mencari investor dan pemberi pinjaman untuk bekerjasama dalam hal penerapan teknologi untuk bisa memperpanjang usia TPA Piyungan itu.
Misalnya teknologi yang dapat membantu pengelolaan sampah agar meminimalkan potensi resiko yang dimunculkan baik dari aspek kesehatan dan lingkungan.
Salah satu cara yang ditempuh, dengan menggelar market sounding atau pemetaan pasar  demi mendapatkan masukan dan kerjasama teknologi dari sektor swasta dan investor potensial.
“Kami juga merencanakan penambahan lahan baru di TPA Piyungan seluas 6 hektar di sekitar lokasi itu untuk pengembangan melalui skema kerjasama dengan investor,” ujarnya.
Hananto mengatakan saat ini TPA Piyungan itu menerima sampah rata-rata sekitar 600 ton per hari.
Jumlah tersebut adalah jumlah sampah per hari yang diangkut ke TPA Piyungan dari total 1.703 ton sampah yang dihasilkan DIJ setiap harinya.
Diproyeksikan, pada tahun 2042, jumlahnya akan naik menjadi 2.313 ton per hari dimana akan terkumpul sebanyak 1.939 ton sampah dan akan dibuang di TPA Piyungan sekitar 905 ton setiap harinya.
Hananto menuturkan saat ini mendesak dilakukan efisiensi pengumpulan sampah di wilayah DIJ terutama dari wilayah Kabupaten Sleman dan Bantul. Sampah dari kedua daerah itu menyumbang 31% dan 42% dari total sampah di Piyungan.
Selain itu, aktivitas pengurangan sampah di hulu juga harus dilakukan.
“Artinya, tidak semua sampah masuk ke TPA Piyungan,” katanya.
Sampah menurutnya harus dapat dipilah berdasarkan dengan komposisi sampahnya.
“Oleh karena itu kami terbuka untuk segala kemungkinan usulan teknologi dari investor, termasuk sarana prasarana pendukung, gedung administrasi, dan juga infrastruktur lain,” kata Hananto.
Hananto menambahkan, Prioritas utama yang bisa dilakukan Pemda DIJ untuk menekan penambahan volume sampah di TPA Piyungan adalah melakukan pengolahan limbah sebelum penimbunan mengurangi penimbunan sampah.
Serta meningkatkan pengumpulan sampah dan pengelolaan sampah yang terdesentralisasi. Dengan upaya itu, pengumpulan sampah di masa datang ditarget lebih efisien 80% untuk Kabupaten Bantul, 80% untuk Kabupaten Sleman, dan 98% untuk Jogja.
“Harapannya lahan baru TPA Piyungan yang telah dilengkapi dengan teknologi pengelolaan sampah tersebut dapat terealisasi pada awal bulan Januari tahun 2025,” tambahnya.
Hananto mengemukakan, gerak investor ini membutuhkan dukungan dari Pemda DIJ. Terutama sisi infrastruktur, analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), dan pengembangan rencana induk limbah yang terperinci untuk meningkatkan efisiensi pengumpulan limbah dan pengelolaan limbah yang terdesentralisasi.
Selain itu dukungan untuk investor juga akan diberikan melalui perluasan lahan TPA Piyungan yang bebas sengketa, regulasi, penanganan masalah sosial, serta adanya jaminan limbah minimum.(sky)
Jogja Raya