RADAR JOGJA – Aktivitas bercocok tanam makin banyak dilakukan, khususnya oleh kalangan ibu-ibu di masa pandemi Covid-19. Masyarakat pun terus berinovasi, sehingga muncul kreativitas mereka.

“Kita di masa pandemi, tampaknya wong kepepet watak aslinya muncul jadi kreatif dan inovasi,” kata Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi pada penanaman perdana bawang merah dan tabur benih lele di RW 6 Sidikan, Umbulharjo, Minggu (29/11).

Wawali menjelaskan, dalam suasana pandemi memang didorong masyarakat untuk menanam apa yang dimakan dan makanlah apa yang ditanam. Apalagi perdana dalam penanaman bawang merah di Sidikan ini merupakan komoditas dasar yang paling penting ada di dapur.

“Artinya kita ini harus memproduksi banyak-banyak setiap hari yang kita perlukan, termasuk bawang merah dan lele. Karena setiap hari kita butuhkan,” ujar HP.

GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

Dikatakan, setiap kampung di Kota Jogja sudah memiliki kekhasan masing-masing. Seperti kampung jambu di Gemblakan, kampung alpukat di Surokarsan, kampung anggur, klengkeng, jahe merah, dan masih banyak lagi.

Khusus di Kampung Sidikan adalah potensi bawang merah. “Saya kira untuk punya nilai jual ekonomi, ya harus fokus. Sehingga menjadi bagian dari upaya mengkonsolidasikan produksinya lebih terarah,”  jelasnya.

Diharapkan pasca penanaman bibit bawang merah masyarakat bisa mengembangkan lebih lanjut dan lebih besar. Ini akan menjadi kekuatan bersama, termasuk upaya menekan angka kemiskinan dan inflasi. “Dengan begitu kita tidak pernah terombang-ambing dengan nilai fluktuatif  di pasar,” tambahnya.

Ketua KWT Srikandi RW 6 Sidikan Sarjilah menyebut, pertimbangan memilih menanam bawang merah karena harga bahan dasar ini melambung tinggi di pasar. Kebanyakan ibu-ibu rumah tangga mengeluh dengan harga yang tinggi. Apalagi masih situasi pandemi.

Sampai akhirnya berinovasi untuk menanam bawang merah di atas lahan sekitar 500 meter persegi dengan media tanam wolkaponik. “Kami  baru melihat kemarin harga pasar bawang merah kok mahal. Dan, kami  tertarik untuk menanamnya,” katanya.

Kebanyakan ibu-ibu di RW 06 ini juga banyak yang kehilangan penghasilan akibat pagebluk korona. Penanaman juga bisa menambah penghasilan mereka, selain menambah kegiatan positif di kebun. “Kami  motivasi untuk bertani brambang, kita tanam benih 10 kilogram. Supaya kalau panen bagus, bisa untuk penghasilan ibu-ibu yang kehilangan penghasilan,” ujarnya.

Sebelumnya, aktivitas menanam juga sudah dilakukan kepada KWT Srikandi yang memiliki anggota 30 orang. Kebanyakan ibu rumah tangga. Lahan yang sebelumnya ditanami sere, lidah buaya, singkong, dan pohon pepaya.

Diklaim kampung sayur ini memikiki banyak manfaatnnya. Salah satunya bisa lebih rukun antaranggota kelompok dan warga.

“Kami juga jadi tambah semangat untuk bercocok tanam. Dari situ kelompok bisa menjual hasil kebunnya. Ada juga lidah buaya yang produknya seperti stik lidah buaya. Kita baru coba tawarkan ke masyarakat, ya sedikit jadi tambah penghasilan,” tandasnya. (wia/laz)

Jogja Raya