RADAR JOGJA – Kampung Sidikan RW 6, Pandeyan, Umbulharjo, dipilih sebagai kampung percontohan pengembangan penanaman dengan media wolkaponik. Dengan sumber bahan organik untuk media tanamnya.

Penyuluh swadaya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jogja Eka Yulianta mengatakan, penanaman bawang merah di Sidikan menggunakan media tanam paling baru yakni wolkaponik. Media tanam ini diklaim baru mulai dikembangkan di Kota Jogja, khususnya di Kampung Sidikan.

“Kami pilih di sini karena warganya ingin sistem pertanian yang baru dan melihat yang biasanya sudah tahu. Dan ini juga untuk mengurangi pupuk kimia dan pestisida,” katanya.

Eka menjelaskan, media tanam ini tidak menggunakan air mengalir selama 24 jam. Tetapi hanya setengah jam untuk pagi hari dan setengah jam untuk sore hari. “Di dalamnya itu sudah ada media tanam beberapa jenis bebatuan, karbon dan sebagainya. Itu nanti akan mempercepat pertumbuhan dari bawang merah,” ujarnya.

Biasanya bawang merah memiliki masa panen agak lama, sekitar tiga bulan. Dengan media tanam wolkaponik ini bisa lebih maju satu minggu atau 10 hari lebih cepat. Keuntungan lain, penanaman ini 100 persen organik.

Begitu pula tabur benih lele, yakni pakan lele memanfaatkan sisan makanan yang tidak terolah untuk dijadikan pelet. “Keuntungan media tanam ini proses percepatan pertumbuhannya akan lebih bagus. Kami  tidak pakai AB Mix karena ada unsur kimianya. Ini 100 persen organik, menggunakan aktivatornya adalah lele ditambah vitamin,” jelasnya.

Bagaimana hubungan lele dengan media tanam ini? Lele akan dimasukkan ke dalam ember diletakkan di bawah media tanam ini. Kotoran sisa-sisa lele dan lendir akan membantu untuk pertumbuhan tanaman bawang merah. Di tambah adanya karbon dan natrium serta berbagai unsur bebatuan.

“Nanti akhirnya bersatu, jadi nilai NPK-nya sangat tinggi, di atas 16. Kalau hidroponik kan tidak 100 persen organik, karena masih menggunakan AB Mix. Kalau ini tidak menggunakan AB Mix, semuanya diproses dari rumah. Nanti efek dari hasil panennya akan lebih bagus,” tambahnya.

Pengembangan media tanam ini juga nol pupuk kimia dan pestisida, serta diklaim ketahanan terhadap hama penyakit pun lebih bagus. “Nanti kami akan kembangkan di beberapa daerah. Diakui kalau di kota lahannya sempit, tapi nanti bisa disusun naik menempel di tembok,”  beberanya. (wia/laz)

Jogja Raya