RADAR JOGJA – Jumlah orang meninggal dunia dengan prosedur pemakaman protokol Covid-19 meningkat di Kota Jogja. Akibatnya, tim pemuliaan jenazah BPBD Kota Jogja mulai kewalahan menangani banyaknya penambahan jenazah.

Analis Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Retno Rahayu Subekti mengatakan, baru-baru ini tepatnya Sabtu (21/11) hingga Minggu (22/11) telah melakukan enam kali pemakaman jenazah prosedur Covid-19 dalam 36 jam. “ Itu dari hari Sabtu pagi sampai Minggu sore,” katanya Kamis (26/11).

Total ada 10 jenazah warga kota yang harus dimakamkan. Apa daya karena tim pemuliaan jenazah tidak mampu dengan keterbatasan personel, sampai akhirnya tugas itu dilimpahkan langsung kepada personel BPBD DIJ. “Tim kami tidak mampu, kalau sampai 10 pemakaman. Jadi yang empat jenazah kami koordinasikan dan dicover BPBD DIJ,” ujarnya.

Mengapa opsi itu harus dilakukan? Ini karena personel tim pemuliaan jenazah BPBD Kota Jogja sangat terbatas. Pada saat itu hanya memiliki lima tim, di mana ada 10 jenazah yang harus dimakamkan. Di pemakaman ke-6, harus menurunkan tim cadangan dan personel yang sudah bertugas Sabtu pagi untuk diberangkatkan lagi pada Minggu sore.

“Setelah itu kami sempat istirahat selama dua hari, Senin dan Selasa untuk memulihkan kondisi teman-teman. Karena pemakaman dini hari saat itu hujan deras. Makanya hari Selasa ada permintaan dari RSUD Kota, itu pun kami geser ke BPBD DIJ karena kami masih mengistirahatkan tim. Kami on lagi hari Rabu kemarin dengan pemakaman satu jenazah,” terangnya.

Kendati demikian, deretan jenazah yang dimakamkan itu belum tentu berstatus positif Covid-19. Menurutnya, bisa saja jenazah menjalani perawatan di rumah sakit dengan diagnosa Infeksi Saluran Pernafasan Atas (Ispa) atau pnemonia. Dan, pemakaman harus mengikuti prosedur Covid-19.

“Karena biasanya orang yang didiagnosa pasti akan melakukan swab. Cuma hasilnya berjarak tiga sampai empat hari baru keluar. Bisa jadi pasien ini meninggal sebelum hasil swabnya keluar,” papar Retno.

Berkaca pada kasus lalu untuk mengantisipasi pengalaman personel yang terbatas hingga kewalahan, maka personel pemuliaan jenazah sudah ditambah 10 orang dari PMI Kota Jogja. Satu tim pemuliaan jenazah terdiri atas tujuh personel untuk sekali jalan ke lokasi pemakaman.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, kasus meninggal dunia karena Covid-19 di Kota Jogja didominasi pasien komorbid. Namun tidak semua pasien komorbit tidak memiliki peluang untuk sembuh. “Tidak semua komorbit meninggal, tergantung kekuatan daya tahan tubuhnya,” katanya.

Wakil Wali Kota Jogja ini menjelaskan tidak semua komorbit berakibat fatal. Tetapi tergantung kondisi psikologis pasien. “Karena kalau stres itu bisa memperburuk. Biasanya kalau udah gitu, kan terus mikirnya macam-macam,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja Emma Rahmi Aryani membenarkan sampai saat ini kasus meninggal dunia Covid-19 di Kota Jogja mayoritas memiliki penyakit bawaan. “Kebanyakan karena komorbid dan yang terbanyak DM (Diabetes Melitus),” tandasnya. (wia/laz)

Jogja Raya