RADAR JOGJA – Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) akan menggencarkan sosialisasi ke masyarakat terhadap keberadaan Satgas Sigrak. Ini menyusul masih tingginya kasus kekerasan di Kota Jogja pada Januari-Oktober 2020.

Kepala DPMPPA Kota Jogja Edy Muhammad mengatakan, angka kekerasan perempuan dan anak sampai bulan Oktober lalu berjumlah 113 kasus. Baik yang mendapat kekerasan laki-laki maupun perempuan. “Dari sisi angka memang ada penurunan dibanding 2018 maupun 2019,” katanya di sela konferensi pers Hari Anti Kekerasan Perempuan dan Anak, di Kantor Diskominfosan Kota Jogja, Kamis (26/11).

Edy menjelaskan, tahun 2019 data kekerasan di UPT P2TP2A ada 121 kasus, terdiri atas laki-laki 22 kasus dan perempuan 99 kasus. Kemudian 2018 angka kekerasan total 201, terdiri perempuan 184 kasus dan laki-laki 17 kasus. “Ini menunjukkan penurunan sebenarnya. Tapi kasus masih cukup tinggi hingga 2020,” ujarnya.

Sedangkan 113 kasus di tahun 2020 terdiri atas laki-laki 15 kasus dan perempuan 98 kasus. Menurut bentuk kekerasan dan jenis kelamin perempuan, angka kekerasan didominasi persentase terbesar pada kekerasan psikis. Kemudian kekerasan fisik, penelantaran, pencabulan, dan pelecehan seksual.

Sementara untuk laki-laki didominasi masih sama, yakni kekerasan psikis. Kemudian penelantaran, pencabulan, dan kekerasan fisik. “Oleh karena itu momentum Hari Anti-kekerasan terhadap Perempuan dan Anak kami ajak Satgas Sigrak untuk turun mensosialisasikan lebih luas lagi membangun kesadaran masyarakat. Dan punya kepedulian atas hak-hak perempuan dan anak, jadi bisa untuk mencegah tindak kekerasan,” jelasnya.

Satgas Sigrak merupakan perwakilan dari setiap kelurahan, ditunjuk dua orang yang dianggap mampu dan peduli terhadap perlindungan perempuan dan anak. Beberapa tugasnya untuk mendeteksi jika ada tindak kekerasan di wilayahnya. Penjangkauan jika ada korban kekerasan di wilayah.

Selain itu menjamin para korban dan merujuk sesuai dengan kebutuhan korban. “Kalau korban sakit dan mendapatkan kekerasan fisik yang mangakibatkan luka, bisa dibawa ke layanan kesehatan. Atau yang butuh layanan hukum bisa dibawa ke kepolisian,” terangnya.

Untuk mendukung tugas Satgas Sigrak tidak lepas koordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (UPT P2TP2A) dalam rangka pendampingan tindakan. “Karena nanti bila di wilayah tidak bisa menyelesaikan, akan dirujuk ke UPT,” tandasnya.

Memperingati Hari Anti-kekerasan Perempuan dan Anak yang biasa diperingati 25 November, pihaknya menyelenggarakan rangkaian kegiatan sebagai upaya menekan angka kekerasan. Kegiatan akan terselenggara hingga pertengahan Desember 2020.

Salah satu kegiatannya melakukan kampanya anti-kekerasan yang dilakukan Satgas Sigrak tingkat kecamatan dan kelurahan. Dengan membagikan bunga di Titik Nol Kilometer. Adapun jumlah Satgas Sigrak di Kota Jogja sudah ada 105, terdiri atas 90 Satgas Sigrak Kelurahan dan 15 Satgas Sigrak Kecamatan.

Ketua Satgas Sigrak Kecamatan Jetis Rika Wulandari mengatakan, terhadap penanganan kekerasan selama ini mengacu pada laporan yang diterimanya dari UPT P2TP2A. Selain itu ada orang lain atau korban yang melapor ke pihaknya.
“Kalau kami dapat laporan langsung ke wilayah dan kami tangani, dampingi korban. Langsung kita antar ke UPT apa yang dibutuhkan korban dan UPT menyesuaikan kebutuhan korban,” katanya. (wia/laz)

Jogja Raya