RADAR JOGJA – Puluhan ribu air tawar jenis nila, tombro dan koi menghiasi selokan irigasi di RT 69/RW 19 Dusun Dukuh, Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron. Berawal dari saluran air tak terawat kini berubah 180 derajat. Tak hanya pendangkalan, semerbak bau menyengat dan sampah menjadi pemandangan sehari-hari.

Selang waktu berjalan, kondisinya sudah jauh berbeda. Tak ada lagi sampah atau pendangkalan saluran irigasi air. Warga yang kini tergabung dalam kelompok Mina Julantoro Asri bahu membahu membersihkan saluran air sepanjang 140 meter tersebut.

“Pada awalnya masyarakat sekitar memang belum sadar menjaga kebersihan saluran air ini. Lalu diedukasi dan akhirnya bersama-sama merawat dan dimanfaatkan untuk budidaya ikan air tawar,” jelas Bendahara Mina Julantoro Asri, Sinta Dewi, ditemui di lokasi saluran irigasi, Kamis (26/11).

Diakui olehnya, tak mudah mengubah saluran irigasi tersebut. Terlebih kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah di aliran selokan belum terbentuk. Alhasil Sinta bersama Mina Julantoro Asri harus berjuang ekstra.
Pasca pendekatan secara intens, warga kampung Dukuh mulai terpanggil. Tumpukan sampah mulai diambil dari aliran selokan. Lumpur yang mengendap di sepanjang 140 meter aliran selokan juga mulai dibersihkan.

“Setelah perilaku hidup bersih dan sehat terbentuk lalu mengajukan ke dinas kelautan untuk pengembangan saluran irigasi. Termasuk budidaya ikan air tawar di aliran selokan,” katanya.

Gayung bersambut, warga mendapatkan bantuan 15 ribu ekor benih ikan nila. Semangat warga semakin tinggi dalam berbenah. Sekitar lingkungan selokan juga mulai dibersihkan.

Warga juga mulai melengkapi penghuni selokan air. Beberapa ekor ikan jenis koi dan tombro mulai dimasukan. Dipilihnya kedua jenis ikan ini memiliki alasan tersendiri. Sebagai indikator air keruh dan tak nyaman bagi ikan lainnya.

“Bersamaan dengan ini kami membentuk kelompok budi daya Mina Julantoro Asri. Nama Julantoro diambil dari nama jembatan di area barat,” ujarnya.

Pengelolaan tentu menemui kendala. Paling utama adalah masih adanya sampah yang melewati aliran selokan tersebut. Bukan lagi dari warga sekitar, tapi dari aliran yang berada di sisi utaranya.

Ulah iseng pemancing juga telah diantisipasi. Warga sekitar sepakat untuk menjaga ikan di aliran selokan. Apabila ditemukan pemancing nekat, maka teguran menjadi konsekuensi awal.

“Sampah sudah jadi risiko kami, memang harus benar-benar memperhatikan pembersihan sampah. Kalau pemancing, intinya ada konsekuensi ditegur kedua, ketiganya langsung ke polisi,” tegasnya.

Dari yang awalnya budidaya dan pemberdayaan warga, berubah jadi objek wisata. Warga dari luar Kampung Dukuh mulai berdatangan. Tujuannya hanya satu, melihat puluhan ribu ikan air tawar yang berenang di saluran irigasi.
Perempuan yang menjabat Ketua PKK RT.69 juga menuturkan dampak positif lainnya. Tak hanya di sektor wisata, warga juga mendapatkan gizi berimbang. Selain dijual ke tengkulak, warga juga bisa membeli. Tentunya dengan harga yang lebih murah dari harga pasar

“Sekarang sudah 5 periode panen, sekali panen 1 ton 544 kilogram, puncaknya pernah 1,8 ton. Warga boleh beli, kemarin kami jual Rp 15 ribu perkilogramnya. Padahal pasaran sekitar masih Rp 35 ribu,” katanya. (dwi/ila)

Jogja Raya