RADAR JOGJA – Even rutin Jogja Mandiri Expo (JME) tetap digelar di tengah pandemi Covid-19, meski dengan protokol kesehatan (prokes) ketat. Namun kali ini digelar lokal di Malioboro Mall Jogja, Rabu (25/11).

Koordinator Pameran JME 2020 Sukirman mengatakan, biasanya JME yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Jogja itu selalu digelar keluar daerah. Seperti Jakarta, Bandung, Surabaya maupun daerah-daerah lain untuk mempromosikan tiga varian produk unggulan Jogja, yakni kuliner, kerajinan, dan fesyen.

“Ini perdana diadakan selama pandemi. Biasanya tidak pernah diselenggarakan di Jogja,” kata di sela acara. Sukirman menjelaskan, tahun ini tidak hanya untuk mempromosikan produk-produk unggulan 40 UMKM yang berpartisipasi dalam pameran ini.

Karena digelar di tengah pandemi, ini sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan memulihkan ekonomi pelaku usaha yang mewakili 14 kecamatan di Jogja. “Karena juga masih terbatas untuk mempromosikan produk ke luar daerah, makanya diadakan di Jogja dulu. Yang penting bisa mempertemukan pembeli dengan penjualnya,” ujarnya.

Menurutnya, rata-rata selama pandemi pelaku UMKM turun omzet sekitar 60 persen. Ini karena peserta pameran yang sebagian dari lantai 3 Pasar Beringharjo mengalami penurunan pengunjung, menyusul tidak ada wisatawan yang datang ke Jogja.

Untuk bisa bertahan harus berinovasi mencari peluang. Termasuk memasarkan dengan cara online. Tentu banyak perubahan yang tadinya usaha fesyen beralih ke usaha kuliner. Atau dari usaha fesyen membuat batik beralih membuat masker dan alat pelindung diri (APD) hazmat.

“Kalau yang nggak berinovasi, ya pasti terpuruk. Tapi sebaliknya, ada yang menangkap akhirnya kebanjiran order dan peghasilannya jauh meningkat dari sebelum pandemi,” jelas Sukirman.

Oleh karena itu dengan adanya JME 2020 dari kemarin hingga 29 November diklaim para pelaku usaha semakin merasa terbantu, apalagi masih dalam situasi pandemi. Diharapkan dengan penjualan offline ini dapat mempromosikan kembali produknya, terlebih bisa meningkatkan ekonomi.
Ke-40 UMKM yang terlibat terdiri atas pelaku usaha kuliner seperti bakpia, gudeg, dan makanan kering. Kemudian kerajinan seperti tembaga, perak dari Kotagede, tas rajut, kulit, dan lain-lain. Serta dari fesyen ada batik, lurik, ekoprint, jumputan, sibori, dan baju-baju dari kain perca.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, pameran ini diharapkan dapat memberikan semangat para pelaku usaha dalam memulihkan ekonomi. Terutama dalam marketing maupun transaksi. “Jadi teman-teman tidak berhenti produksi, produksi harus jalan terus. Makanya digenjot bagaimana kita bisa membantu agar transaksi bisa lebih mudah,” katanya.

Dikatakan, pameran untuk mempromosikan kepada para pengunjung di Malioboro Mall agar ketika ada produk-produk terbaru sudah mengetahui bahwa ada pedagang yang bisa transaksi online. “Karena selama pandemi orang tidak banyak bepergian, maka transaksi digital dikedepankan,” tandasnya. (wia/laz)

Jogja Raya