RADAR JOGJA – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tinggi. Dari catatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTK) Jogjakarta hingga pukul 12.00 Rabu (25/11), terdengar guguran tiga kali yang menimbulkan suara gemuruh.

Selain itu terjadi 10 gempa guguran dengan amplitudo 3-17 mm dan berdurasi 11-79 detik. Tercatat juga 13 gempa hembusan beramplitudo 2-21 mm berdurasi 11-27 detik, 62 gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 3-37 mm dan berdurasi 5-12 detik.

Untuk gempa vulkanik dangkal terjadi lima kali dengan amplitudo 41-75 mm dan berdurasi 14-39 detik. “Berdasarkan aktivitas ini, Merapi tetap dengan status level III atau siaga,” jelas Kepala BPPTK Jogjakarta Hanik Humaida saat dihubungi Radar Jogja Rabu (25/11).

Oleh karena itu, ia meminta Pemkab Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten untuk mempersiapkan segala sesuatu terkait upaya mitigasi bencana Merapi yang bisa terjadi setiap saat. “Jika terjadi perubahan aktivitas Merapi yang signifikan, status aktivitas Merapi segera ditinjau kembali,” tandasnya.

Sementara itu terhadap tempat wisata di kawasan rawan bencana (KRB) III atau dalam radius 5 km dari puncak Merapi, dikatakan Hanik direkomendasikan untuk tidak beroperasi. Di luar radius itu, tempat wisata dibolehkan untuk dibuka.

Hanik pun mengimbau kepada pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III, termasuk kegiatan pendakian ke puncak. “Wisata yang direkomendasikan untuk tidak beroperasi adalah tempat wisata di KRB III. Penutupan ini tergantung kebijakan pemkab setempat,” ujarnya.

Rekomendasi dikeluarkan karena ada potensi ancaman bahaya berupa material vulkanik sejauh lima kilometer. “Sebab, dari evaluasi, aktivitas vulkanik bisa berlanjut ke erupsi yang membahayakan penduduk,” jelasnya.

Kendati bisa beroperasi, tempat wisata maupun wisatawan di luar KRB III diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan serta kesiapsiagaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana. (tor/laz)

Jogja Raya