RADAR JOGJA – Mendekati akhir tahun, harga beberapa kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Rata-rata kenaikan sekitar 10 persen. Pembeli memilih untuk mengurangi kebutuhannya. Sementara pedagang mengaku omzet masih lemah, kendati permintaan mulai meningkat.

Mujiyem, salah seorang pedagang mengakui kenaikan harga kebutuhan pokok sudah berlangsung sekitar seminggu. Menurutnya, kenaikan harga rutin terjadi menjelang akhir tahun. Menyambut Natal dan Tahun Baru (Nataru). “Kemungkinan ini naik terus,” sebutnya, saat ditemui di kios miliknya, Pasar Imogiri, Bantul, Selasa (24/11).

Perempuan 60 tahun itu memaparkan, harga bawang putih naik seribu rupiah. Dari Rp 27 ribu menjadi Rp 28 ribu. Sementara bawang merah dari Rp 30 ribu menjadi Rp 35 ribu. Lonjakan paling tajam terjadi pada harga tomat. “Tomat sekarang Rp 15 ribu, dari yang cuma Rp 2 ribu,” ungkapnya.

Namun Mujiyem menyebut beberapa bahan pokok harganya tetap sama. Seperti cabai rawit merah dan teropong. Masing masing masih Rp 35 ribu dan Rp 40 ribu. Kendati begitu, warga Karangtengah, Imogiri, Bantul, ini mengaku omzet dagangannya belum kuat.

“Pembeli meningkat sedikit. Tapi kalau dibanding dari sebelum adanya pandemi Covid-19, masih agak jauh. Dulu bisa dapat Rp 400 ribu per hari. Sekarang Rp 180 ribu saja sampai sore,” keluhnya.

Terpisah, pemilik toko kulakan Gemah Ripah, Rina mengungkap kenaikan harga telur. Harga telur disebut warga Wirokerten, Banguntapan, ini naik cukup signifikan. “Telur naik banyak, dari Rp 325.500 per kotak menjadi Rp 343.500 per kotak,” ucapnya.

Sementara itu, pembeli di Pasar Pleret Sumiyatun mengaku mengurangi belanjaannya. Lantaran perempuan 64 tahun ini was-was. Tidak mampu menjual kembali kebutuhan pokok di warungnya. “Lah, ada pembeli yang tanya tomat. Saya kasih harga seribu rupiah per biji, malah nggak jadi beli,” ungkapnya.

Sama, pembeli lain di Pasar Pleret, Sundari, juga mengurangi belanjaannya. Sundari mengaku berdagang makanan olahan pedas. Seperti seblak, ceker setan, bakso bakar pedas, dan makaroni pedas. Ini dilakukan perempuan 29 tahun itu untuk menyiasati usahanya tidak merugi. “Ya, gimana pinter-pinternya mengakali bumbu aja, supaya tetap enak dan pelanggan tidak kecewa,” ujarnya. (cr2/laz)

Jogja Raya