RADAR JOGJA – Puluhan orang dari berbagai organisasi kerelawanan ada di Barak Pengungsian Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. Mereka juga datang dari berbagai latar belakang yang menarik. Muammar Khadafi salah satunya.

HERY KURNIAWAN, Sleman, Radar Jogja

Pria berusia 37 tahun itu dulunya aktif di dunia hiburan. Baik sebagai event organizer (EO) maupun sebagai pemain band. Namun, perjalanan hidup membawa sosok yang akrab disapa Ammar itu menjadi relawan di awal tahun ini.

Ammar menjelaskan ada beberapa hal yang membuatnya mau bekerja sebagai relawan. Pertama adalah keikhlasan dari para relawan. Kemudian dia juga merasa jauh lebih tenang dengan pekerjaan relawan yang ia jalani sekarang ini.
Ammar juga sangat terinspirasi dengan orang-orang yang lebih dulu menjadi relawan. Menurut dia, relawan itu bisa disebut sebagai orang gila yang terhormat. Karena mereka memiliki keberanian untuk membantu sesama meski sadar akan bahaya yang dihadapi. “Kebetulan waktu itu saya diajak gabung sama Mas Edo Segara (Wakil Ketua Baznas Tanggap Bencana DIJ, Red),” katanya.

Di Barak Pengungsian Kalurahan Galagaharjo, Cangkringan, ia bertugas di dapur air. Ia bertanggung jawab menyiapkan air untuk kegiatan pengungsi. Mulai dari minum, mandi, hingga untuk mencuci pakaian.

Ini adalah pengalaman pertama Ammar menjadi relawan di sebuah daerah yang tengah dalam status tanggap darurat bencana. Dalam hatinya sebenarnya ada rasa takut. Apalagi jika menilik sejarah Gunung Merapi yang kerap erupsi dengan kekuatan yang luar biasa.

Kendati demikian, rasa takut yang dimiliki Ammar itu kalah oleh rasa ingin membantu sesama. Apalagi saat ini mayoritas pengungsi di Glagaharjo diisi mereka yang sudah berusia lanjut. “Saya juga jadi ingat ibu saya, jadi kepikiran kalau nanti sudah sepuh merawatnya bagaimana,” ujarnya.

Menghadapi kebanyakan orang yang berusia lanjut juga menjadi tantangan tersendiri bagi Ammar. Orang yang sudah lansia memang memiliki kecenderungan untuk kembali bersifat kekanak-kanakan. “Ya kadang ada konflik-konflik kecil di antara mereka, biasa lah,” tandasnya sembari tertawa.
Di Barak Pengungsian Glagaharjo kurang lebih ada 60 relawan. Mereka terdiri atas berbagai bidang, mulai dari kesehatan, medis, penyelamatan, bahkan ada juga yang berasal dari bidang kesehatan hewan.

Kehadiran para relawan itu sangat membantu para pengungsi yang sudah dua pekan lebih ada di barak pengungsian. Para relawan dengan sabar memenuhi apa yang menjadi kebutuhan para pengungsi.

Ngatmo misalnya, pria berkepala enam itu mengaku mendapatkan banyak manfaat dari kehadiran relawan. “Kemarin itu saya dikasih obat, kaki saya yang bengkak sekarang sudah kempes, penak meneh,” ujarnya. (laz)

Jogja Raya