RADAR JOGJA – Arus lalu lintas diklaim lebih lancar pasca penerapan sistem satu arah (SSA) di Jalan Letjen Suprapto, Kota Jogja. Di sisi lain perilaku pengendara ugal-ugalan yang melintas dengan kecepatan tinggi, dikhawatirkan oleh warga sekitar khususnya Ngampilan.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Jogja Agus Arif Nugroho mengatakan, hal itu berkaitan dengan kesadaran masyarakat. Rambu-rambu batas kecepatan pun sudah terpasang di ujung simpang Jlagran. “Kalau ada yang seperti itu (ngebut) tentu itu berbicara kesadaran masyarakat. Rambu-rambu sudah kami pasang pun pengguna jalan sering abai juga,” katanya.

Agus menjelaskan secara psikologis lalu lintas penerapan SSA diprediksi hanya butuh waktu untuk menyesuaikan. Sebab pemberlakuan SSA di Jogja tidak hanya sekali ini. Sama halnya dengan pemberlakuan SSA di jalan-jalan lain seperti Jalan Prof Yohanes atau Jalan C Simanjuntak.

Meskipun dari dua arah diubah menjadi satu arah, ekonomi tetap tumbuh. “Tidak lantas mati, ini hanya butuh penyesuaian saja. Bahkan di sana cenderung lebih ramai aktivitas ekonominya, karena jalanan tidak macet. Kalau jalanan macet, ekonomi tidak tumbuh nanti. Karena orang jadi malas melewati jalanan macet,” tandasnya.

Meski begitu, Dishub tetap akan mengkaji keluhan-keluhan masyarakat Ngampilan. Termasuk mengkaji batas maksimal kecepatan dalam kota. Saat ini tengah melakukan traffic count untuk menghitung volume lalu lintas dikondisikan dengan lebar jalan selama periode waktu tertentu.

Sekaligus penempatan rambu-rambu batas maksimal kecepatan dalam kota saat melintas jalan SSA juga akan dievaluasi. Penempatannya akan disesuaikan di titik tertentu yang strategis bisa dilihat oleh pengguna jalan.

“Kami kaji dulu, kalau demi kepentingan kelancaran informasi pengguna jalan ya kami lakukan. Kami berharap juga masyarakat yang melintas di jalan manapun pada saat kondisi lalu lintas tetap lebih aware. Jangan jadikan jalanan seperti sirkuit ngegas atau ngebut sakpenak e,” jelasnya.

Pengkajian sistem giratori untuk mendukung pedestrian Malioboro sudah dikaji lama sejak 2014 silam. Ini memang menjadi salah satu upaya meningkatkan kelancaran aksesibilitas lalu lintas masyarakat agar tidak terjadi kemacetan. “Nanti kalau masyarakat sudah terbiasa melewati jalur yang tujuannya ke sana, tidak akan masalah,” terangnya. (wia/laz)

Jogja Raya