RADAR JOGJA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta menyebut, perjalanan magma Gunung Merapi ke puncak semakin mendekati permukaan. Namun untuk kecepatan dan kepastian kapan magma itu akan keluar, masih belum diketahui. “Magmanya sudah semakin dekat ke permukaan,” tandas Kepala BPPTKG Hanik Humaida Jumat (20/11).

Dijelaskan Hanik, ada peningkatan energi guguran Merapi secara signifikan belakangan ini. Sehingga desakan magma ke permukaan juga semakin kuat. “Energinya cukup signifikan, berarti desakan magma menuju permukaan semakin kuat,” ujarnya.

Lebih lanjut Hanik mengatakan, saat ini masih terus terus berlangsung proses dorongan magma menuju permukaan. Namun laju kecepatan magma ke permukaan masih belum bisa dihitung, karena kubah lava belum muncul.

Sementara itu berdasarkan posisi hiposenter gempa vulkanik, Merapi memiliki dua kantong magma. Yakni kantong magma dangkal dan kantong magma dalam. Untuk kantong magma dangkal ada pada kedalaman kurang lebih 1,5-2 km dari puncak, dan kantong magma dalam berada sekitar 5 km dari puncak gunung api ini.

Energi yang datang dari bawah Merapi mengakibatkan longsornya bagian dinding kawah bagian selatan. Kejadian itu teramati pada Rabu (18/11). Sejauh ini guguran paling dominan mengarah ke barat-barat laut.

Dijelaskan Hanik, hasil dari guguran dinding kawah tersebut mengarah ke Kali Gendol. “Sekarang gugurannya ke Kali Gendol. Dominannya ke arah barat-barat laut ke Kali Senowo dan Lamat. Memang itu arah utamanya, tapi ke Gendol masih ada guguran,”  ujarnya.

Meski arah guguran dominan ke barat dan barat laut, Hanik menjelaskan, potensi bahaya utama tetap ke arah bukaan kawah atau ke arah Kali Gendol. Tetapi tidak menutup kemungkinan ada potensi bahaya ke arah lain. (kur/laz)

Jogja Raya