RADAR JOGJA – Makan ikan menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kecerdasan anak. Karena itu, FoI meluncurkan Program Ikan untuk Anak #IUAK. Di Jogja, acara tersebut digelar secara daring serta mengundang anak-anak PAUD ke kantor Kelurahan Mantrijeron, Sabtu (21/11).

Founder Foodbank of Indonesia (FoI) M Hendro Utomo mengatakan, untuk mengoptimalkan kemampuan otak, sejak dini anak-anak harus dibiasakan makan bergizi. Salah satunya dengan makan ikan. Ketika gizi yang diberikan kepada anak rendah maka akan berpengaruh terhadap otak. Hal ini tentu sangat berdampak pada kemampuan kreativitas anak ke depannya. “Karena kemampuan otak itu penting, jika tidak nantinya hanya mengandalkan otot,” katanya.

Meskipun begitu, tak mudah untuk mengajak ayah bunda membiasakan anak makan makanan bergizi. Dari penelitian ada satu dari tiga anak balita atau 17 persen berangkat ke sekolah dengan perut kosong setiap harinya. Daerah padat perkotaan malah angkanya sekitar 40 persen.

Dia juga mengutip hasil penelitian terbaru, jika sebelumnya rokok dan pulsa ke dalam pengeluaran terbesar suatu keluarga. Kali ini ditemukan makanan jenis jajanan juga masuk kategori pengeluaran terbesar. Kenyataan ini sangat membahayakan ke depannya karena bisa menjadi kelaparan tersembunyi. “Gerakan #IUAK ini menggerakkan orangtua terutama ibu untuk mencoba mengatasi persoalan ini,” jelasnya.

Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan UGM Prof Murdijati Gardjito menambahkan, persoalan masih rendahnya tingkat makan ikan di DIJ karena tidak memiliki budaya makan ikan. Selain itu, juga sudah tidak ada kebiasaan keluarga untuk memasak bareng. “Menghidupkan kembali dapur keluarga, paling tidak saat libur bisa memasak bareng sambil ngobrol antar anggota keluarga,” tuturnya.

Persoalan lain, lanjut dia, terkait dengan akses terhadap ikan. Khususnya ikan laut. Menurut dia, ikan-ikan di DIJ rerata harganya mahal. Apalagi untuk jenis udang. Karena memang jaraknya yang jauh dari lokasi nelayan. Secara ekonomi, beberapa kalangan keberatan dengan harga ikan yang mahal. “Belum lagi ikannya sudah mati tujuh kali. Di DIJ mana ikan yang enak dan segar, jadi kesannya ikan itu amis,” ungkapnya. (mg3/pra)

Jogja Raya