RADAR JOGJA – Sejumlah pedagang kuliner di kawasan Jl Letjen Suprapto, Ngampilan memprotes kebijakan sistem giratori dalam manajemen lalu lintas pendukung Malioboro bebas kendaraan bermotor. Sebab Jl Letjen Suprapto yang kini menjadi satu arah berdampak pada menurunnya omzet pedagang. Mereka meminta Pemprov DIJ maupun Pemkot Jogja untuk kembali memberlakukan sistem dua arah di jalan tersebut.

Menurut salah satu pedagang bakso Sugiyanto, dampak yang ditimbulkan dari sistem satu arah lebih parah dibanding dampak dari pandemi Covid-19. Padahal, sebelum kebijakan satu arah berlaku, pedagang sempat merasakan kondisi normal dan mulai bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19.

“Omzet sangat turun drastis, lebih dari 50 persen,” katanya di sela aksi, Kamis (19/11).

Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Ngampilan AY Sudarmo menyebutkan, penurunan omzet pedagang secara umum di kawasan tersebut mencapai 60 persen.

“Semua mengeluh, mulai dari yang di Badran sampai Cavinton mengalami penurunan omzet. Bahkan pedagang bakpia yang di KS Tubun juga sama. Kalau situasi seperti ini dibiarkan tentu para pedagang kuliner dan pengusaha lainnya gulung tikar,” kata dia.

Dia menilai sistem lalu lintas satu arah membuat pengendara cenderung ugal-ugalan. Misalnya pengendara memacu kendaraan mencapai kecepatan 60 km/jam, sehingga membahayakan warga sekitar.

“Kalau dua arah kan semua jadi hati-hati. Baik yang dari utara ke selatan maupun sebaliknya. Makanya kami minta lalu lintas ini diberlakukan lagi seperti semula,” ujarnya. (sky/tif)

Jogja Raya