RADAR JOGJA – Masih ada ratusan warga Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan, yang tetap bertahan di kediamannya kendati Merapi dalam status siaga atau level III. Hal ini karena usia mereka tidak termasuk dalam kategori kelompok rentan yang diharuskan mengungsi.

Salah seorang warga Kalitengah Lor, Dalini, 42, menuturkan, ia bersama suami dan dua anaknya masih tinggal di rumahnya. Kedua anaknya laki-laki yang sudah berusia 24 tahun dan 16 tahun. Meskipun belum diharuskan mengungsi, ia mengaku telah mempersiapkan kebutuhan untuk dibawa pergi. Saat ada peringatan segera mengungsi.

Berkaca pada bencana 2010, saat ini semua surat-surat berharga telah disiapkannya. Bersama dengan baju keluarga yang sudah di packing rapi dalam ransel. “Jadi tinggal angkat,” ucap Dalini sembari tertawa Senin (16/11).

Ditemui di warung dekat rumahnya, ia masih berkumpul dengan masyarakat lain yang belum mengungsi. Alasan belum turun ke pengungsian, adalah ternak yang masih harus diurus. Setiap harinya, ia tetap mencari rumput sekitar 3 kilometer dari Merapi. Tidak membutuhkan waktu lama, satu ikat rumput dengan berat kurang lebih 40 kilogram akan siap dibawa turun. “Tidak sampai 1 jam, langsung diangkut pakai sepeda motor,” jelasnya.

Warga lainnya, Darti, 48, mengaku istri, anak dan cucunya telah turun ke pengungsian sejak hari pertama. Sedangkan ia berada di rumah untuk berjaga dan memantau wilayah sekitar. Selama masa kenaikan status Merapi, ia selalu memantau informasi melalui HT. Sudah tidak merumput karena dua sapi perahnya telah ia jual. “Dibeli orang Klaten,” jawabnya.

Menurut Darti, kondisi seperti ini dirasa repot untuk mengurus ternak. Meskipun daya jual sedikit turun, hal tersebut dilakukan sebagai upaya antisipasi saat Merapi erupsi. “Karena dulu tiga sapi menjadi korban saat erupsi 2010,” ingatnya.

Sementara itu, Kasi Mitigasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Joko Lelono memastikan untuk mengosongkan wilayah berjarak 5 kilometer dari puncak Merapi sesuai rekomendasi BPPTKG sebelum status dinaikkan menjadi awas. Dari rekomendasi itu, tercatat dusun yang terdampak adalah Kalitengah Lor, Kaliadem, dan Pelemsari. “Namun yang masih berpenduduk Kalitengah Lor,” jelasnya.

Adanya potensi erupsi ke arah barat wilayah Sleman yakni ke Kali Boyong dan Senowo, Joko mengaku telah mempersiapkan skenario. Seperti disiapkannya barak pengungsian milik BPBD. Hanya saja, masyarakat di wilayah barat kini masih belum diinstruksikan untuk mengungsi. Di kawasan rawan bencana (KRB) III wilayah Sleman barat, juga telah dilakukan pendataan penduduk secara langsung. “Warga di Kaliurang yang belum dilakukan pemetaan,” ungkapnya.

139 Sapi Dievakuasi  ke Tujuh Lokasi

Sebanyak 139 ternak sapi milik warga Kalitengah Lor telah dievakuasi. Seluruhnya ternak telah ditempatkan di tujuh lokasi berbeda. Plt Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian,Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman Nawang Wulan menjelaskan, tujuh tempat itu adalah kandang komunal Padukuhan Singlar, Padukuhan Gading, Huntap Karangkendal, Huntap Pagerjurang, Padukuhan Jetis Sumur, Klaten, dan lapangan dekat Balai Desa Glagaharjo.

“Sebanyak 139 ternak sapi yang telah dievakuasi adalah milik 55 warga. Terdiri atas 76 sapi potong dan 63 sapi perah. Ada yang di Klaten itu dititipkan ke saudaranya,” jelas Nawang kemarin (16/11).

Dari total 294 ternak sapi, masih ada 31 sapi perah yang belum dievakuasi. Meskipun di awal evakuasi sapi perah adalah prioritas, adanya pemilik yang juga memiliki sapi potong membuat sapi diturunkan bersama. Saat ini sapi perah warga dititipkan di kandang komunal Singlar.

Untuk sapi potong selanjutnya akan dievakuasi ke lapangan dekat Balai Kalurahan Glagaharjo. “Sudah ada 20 sapi potong yang ada di lapangan. Pembangunan kandang akan selesai tiga hari ke depan dan mampu menampung 200 sapi,” lanjutnya.

Sedangkan untuk sapi perah yang belum dievakuasi, pihaknya masih mencarikan kandang yang memadai milik masyarakat yang tidak digunakan. Agar sapi tidak menjadi stres dan berpengaruh pada susu yang dihasilkan.
Sementara itu, Kepala DP3 Sleman, Heru Saptono mengungkapkan pihaknya akan menyediakan 10 kandang darurat. Setiap kandang akan diisi 20 ekor sapi. Ia menargetkan dalam minggu ini seluruh kandang akan selesai dikerjakan. Dengan begitu ternak yang belum bisa dievakuasi bisa segera dievakuasi. (eno/laz)

Jogja Raya