RADAR JOGJA – Sepuluh hari berada di barak pengungsian, kesahatan pengungsi khususnya lansia cukup stabil. Pengungsi yang sakit masih didominasi dengan penyakit degeneratif yang biasa dialami usia 60 tahun ke atas.

Salah seorang dokter tim medis di barak pengungsian Kalurahan Glagaharjo, Untung Riyawan mengungkapkan, penyakit lansia yang ada di barak pengungsian, antara lain, hipertensi, keluhan kulit gatal, hingga diare. Selain penyakit itu, masih belum ditemukan penyakit yang serius.

Untuk saat ini hal utama yang diperhatikan terkait persebaran Covid-19. Mengingat bagi lansia yang sudah memiliki penyakit penyerta, akan lebih rentan terpapar penyakit. Pihaknya juga selalu menegur pengungsi yang masih bergerombol tanpa menggunakan masker. “Karena masih ada yang ngeyel,” kata Untung Selasa (16/11).

Cek kesehatan, lanjut Untung, sementara waktu masih dilakukan di barak pengungsian. Sedangkan cek kesehatan bagi warga yang masih belum mengungsi, belum dilakukan. Untuk menjaga persebaran Covid-19, pihaknya juga memonitor relawan dan tamu yang berasal dari luar.
Untuk antisipasi, bilik isolasi mandiri di SD Muhammadiyah Cepitsari juga disiapkan. “Namun belum difungsikan karena belum ada kasus reaktif,” kata dokter internship di Puskesmas Minggir ini.

Sementara itu, psikolog di Tim Kesehatan Dewi Nugraheni Pratiwi mengaku saat ini seluruh pengungsi memiliki kerentanan terhadap kesehatan psikologis. Hari ini (17/11) akan dilakukan assesment untuk seluruh pengungsi, sehingga bisa dilakukan pemetaan untuk siapa saja yang akan mendapatkan pendampingan psikologis.

Meskipun ada beberapa pengungsi yang memang memiliki gangguan jiwa bawaan, Dewi mengaku seluruhnya masih cukup terkendali. “Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) masih minum obat teratur dan tidak ada tindakan yang di luar kendali. Masih aman,” tutur psikolog Puskesmas Prambanan itu.
Kondisi psikologis pengungsi, lanjut Dewi, saat ini tergolong stabil. Berbagai upaya telah dilakukan sehingga masyarakat telah siap. Ditambah adanya bencana-bencana sebelumnya, membuat masyarakat bertindak lebih baik untuk melakukan antisipasi. “Dari pendampingan psikologis juga belum ditemukan masyarakat yang memiliki gangguan,” ujarnya.

Joko Purwanto dari Unit Pelaksana Tanggap Darurat Bencana Gunung Merapi membenarkan, pengungsi sudah mulai merasa jenuh. Oleh karena itu saat ini pihaknya masih menyusun berbagai agenda agar pengungsi bisa melakukan kegiatan. “Untuk agenda dalam waktu dekat adalah siraman rohani dari Kemenag,” jelasnya.

Sampai Minggu (15/11) malam total pengungsi 214 jiwa. Dengan usia 17 bayi, 8 balita, 32 anak-anak, dan 70 dewasa dan 87 lansia. “Dalam kondisi sehat. Kemarin memang ada yang sakit, tapi karena penyakit bawaan,” tutur Joko. (eno/laz)

Jogja Raya