RADAR JOGJA – Dalam beberapa pekan terakhir, sebagian besar wilayah DIJ dilanda hawa gerah atau sumuk. Kondisi ini terjadi karena faktor klimatologis, di mana bulan Oktober dan November adalah periode transisi pergerakan semu matahari dari ekuator ke belahan bumi selatan yang mencapai puncak 21 Desember mendatang.

Pada periode itu wilayah Indonesia, termasuk DIJ, akan mengalami radiasi matahari yang lebih optimal dari bulan-bulan lainnya. Hal itulah yang membuat suhu di DIJ agak lebih tinggi dari waktu-waktu sebelumnya.
Hawa panas ini pun dikeluhkan banyak orang. Namun, para penjual kipas angin tidak memiliki keluhan itu. Justru kini mereka sedang menikmati kenaikan persentase penjualan yang signifikan.

Mimin, seorang karyawan Toko Pelangi Elektronik di daerah Demangan, Kota Jogja, menyebutan penjualan kipas angin di toko tempatnya bekerja naik dua kali lipat. Kenaikan terjadi sejak hawa panas mulai melanda wilayah DIJ.
“Kalau jumlah pastinya saya kurang tahu, tapi bisa dibilang naik dua kali lipat dari hari biasa,” katanya kepada Radar Jogja kemarin (15/11). Dikatakan, model kipas meja yang harganya di kisaran Rp 100 ribu-Rp 200 ribu jadi model kipas favorit pembeli. Model kipas itu memiliki ukuran lebih kecil dan terasa praktis jika digunakan di rumah. Kebanyakan pembeli yang datang ke tokonya dari kalangan mahasiswa.

Andi Prasetyo, salah seorang pelanggan yang kebetulan datang untuk membeli kipas angin di toko ini mengungkapkan, ia selama ini tidak terbiasa menggunakan kipas angin. Namun hawa panas membuatnya tak tahan lagi. Ia harus menyisihkan uang sakunya untuk membeli kipas. “Ya gimana lagi, kalau di kosan itu hawanya panas sekali,” tandasnya. (kur/laz)

Jogja Raya