RADAR JOGJA – Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaida angkat bicara terkait gemuruh di wilayah puncak Gunung Merapi. Fenomena ini adalah tekanan dari dalam tubuh gunung. Berupa magma yang terdorong menuju puncak Gunung Merapi.

Secara ilmiah kondisi ini bisa terjadi setiap saat. Terlebih jika aktivitas Gunung Merapi meningkat. Pasca munculnya gemuruh juga kerap dibarengi dengan guguran. Inipula yang tercatat dalam seismograf beberapa stasiun pengamatan gunung Merapi (PGM).

“Penjelasan ilmiah suara gemuruh adalah adanya tekanan magma ke permukaan. Lalu muncul guguran-guguran yang dibarengi dengan suara gemuruh. Ini yang biasa didengar oleh warga di sekitar puncak Merapi,” jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (16/11).

Munculnya fenomena ini membuat material di kawasan puncak tak stabil. Hingga akhirnya terjadi guguran atau terjatuh. Fenomena ini sempat tercatat pada laporan per 15 November. Berupa 5 guguran yang terdengar dari PGM Babadan.

“Karena tidak stabil material tersebut ngglundung dan membuat suara gemuruh. Karena ada magma yang menuju permukaan material yang di atas jadi tidak stabil,” katanya.

Hanik meminta masyarakat tidak panik namun tetap waspada. Caranya dengan terus memantau informasi terbaru melalui kanal BBPTKG. 

Pihaknya juga terus mensosialisasikan data terbaru melalui stakeholder terkait. Khususnya kepada para relawan di seputar lereng Gunung Merapi. Agar upaya mitigasi terhadap bencana erupsi berjalan optimal.

“Kalau dapat informasi dan ragu akan kebenarannya jangan sungkan konfirmasi ke kami. Cara ini lebih pas daripada berspekulasi bukan dengan data yang ilmiah,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Hanik juga menginformasikan kondisi kantong magma. Berdasarkan data BPPTKG, terdeteksi dua kantong magma. Inipula yang menjadi penyuplai utama material Gunung Merapi.

Dari posisi hiposenter gempa vulkanik saat ini, kantong magma pertama adalah dangkal. Berjarak 1,5 kilometer hingga 2 kilometer dari puncak Merapi. Sementara kantong magma kedua tergolong dalam.

“Kalau kantong magma kedua ini jaraknya kurang lebih 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Keduanya penyuplai aktif ke aktivitas Merapi saat ini,” katanya. 

Posisinya yang tidak terlalu jauh menyebabkan kenaikan tekanan di dapur magma. Alhasil aliran magma menuju kantong magma yang terletak di atasnya membuat tekanannya naik. Imbasnya adalah muncul erupsi eksplosif atau efusif.

“Kantong magma fungsinya sebagai katup bagi magma yang naik ke permukaan. Jika terjadi tekanan melebihi ambang batas maka magma akan keluar dengan bentuk erupsi eksplosif atau efusif,” ujarnya.

Terkait laju deformasi  juga mengalami peningkatan. Tercatat jarak tunjam di puncak Gunung Merapi rata-rata 13 centimeter/hari. Data ini tercatat dalam pengukuran electronic distance measurement (EDM) PGM Babadan.

“Untuk laju deformasi tercatat lebih besar dari laporan aktivitas tanggal 11 November. Saat itu tercatat sebesar 12 centimeter/hari sekarang sudah 13 centimeter/hari,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Raya