RADAR JOGJA – Pemandangan berbeda dari biasanya terjadi di beberapa sudut Kota Jogja, yaitu adanya bercak-bercak putih tercecer di jalanan. Salah satunya di sepanjang Jalan Mayor Suryotomo, Ngupasan, Jogja. Bercak putih itu tak lain adalah tahi atau kotoan burung.

Ya, dalam beberapa waktu terakhir, belasan ribu burung kerap bertengger di kawasan ini. Seperti di kabel-kebal listrik, pohon, dan bangunan tua di sepanjang Jalan Mayor Suryotomo, dari perempatan Gondomanan ke utara hingga Hotel Melia Purosani.

Namun kotoran burung paling banyak terlihat di simpang Gondomanan, pertemuan Jalan Mayor Suryotomo dan Jalan Panembahan Senopati, atau tepatnya timur Hotel Limaran. “Itu burung migran layang-layang Asia, mesti tiap tahun memang sering bolak balik gitu,” ujar Ketua Kelompok Pengamat Peneliti dan Pemerhati (KP3) Burung Jogja Rio Syahrudin kepada Radar Jogja, Minggu (15/11).

Rio menjelaskan, fenomena migrasi burung biasanya dimulai sekitar September hingga saat ini sedang ramai-ramainya. Migrasi burung dengan jenis tertentu adalah lazim. Salah satunya dengan jenis migrasi jarak jauh yang merentang antarnegara, bahkan lintas benua.

Burung migran dengan layang-layang Asia bermigrasi dari belahan bumi bagian utara seperti Rusia, Mongolia, dan Tiongkok. Mereka bermigrasi ke bagian selatan dan singgah di Indonesia untuk menghindari cuaca dingin ekstrem dari habitat asalnya. “Kalau musim dingin di daerah utara sulit cari persediaan makanan. Mereka migrasi ke daerah tropis untuk mencari sumber makanan baru untuk mendukung kehidupannya,” ujarnya.

Kenapa burung itu hanya bertengger pada malam hari? Siklus burung migran yang bertengger di kawasan itu dengan jumlah sekitar belasan ribu pada siang hari menyebar ke seluruh penjuru untuk mencari makan. Sore harinya, mereka kembali untuk sekadar beristrahat. “Ada juga yang tidurnya di dekat Pasar Beringharjo, terus ke utara lagi,” tambah Rio.

Selain itu, kawasan Gondomanan menjadi lokasi langganan untuk mangkal burung-burung migran karena diprediksinya tempat itu terdapat banyak aspek. Salah satunya strategis dan banyak sumber bahan makanan. Selain itu memang awal bertengger di kawasan tersebut, sehingga sudah turun temurun dan kembali lagi.

Siklus seperti ini diprediksi akan terjadi sampai bulan Februari. Setelah itu mereka bergeser ke bumi sisi utara untuk kembali ke habitat asalnya. “September pasti bergerak ke sini lagi karena fenomena itu tahunan. Mereka kembali ke asalnya untuk berkembang biak. Kalau berbahaya sih enggak, cuman ya agak risih kan kalau di bawahnya kejatuhan kotoran dan bau,” tambahnya.

KP3 Burung Kehutanan UGM ini bergabung dengan Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ) selalu melakukan penghitungan dan branding pasang cincin sebagai penanda identitas asal usul burung. “Khusus kelompok kami ada 15-20 orang. Kalau kegiatan seperti itu biasanya gabungan,” ujarnya. (wia/laz)

Jogja Raya