RADAR JOGJA – Seorang mahasiswi UTY dilaporkan rekan-rekannya ke Polres Sleman. Belasan mahasiswi itu kapusan bujuk rayu rekannya yang menjanjikan uangnya akan dilipatgandakan. Dengan kedok arisan online. Mereka kapusan hingga puluhan juta.

Kasus ini pun sudah dilaporkan ke Polres Sleman pada Selasa lalu (10/11). Sosok yang dilaporkan adalah EGT. Juga merupakan mahasiswi UTY. Seorang korban, Juli Indah, mengaku mulanya tergiur ikut arisan yang diadakan oleh terduga pelaku EGT. Selanjutnya, EGT menawarinya ikut sebuah investasi. “Ditawari katanya dari uang Rp 3 juta jadi Rp 4 juta, dalam waktu ada yang 20 hari, ada yang 25 hari, ada juga yang 10 hari,” katanya Jumat(13/11).

Saat ditanya bagaimana EGT mengelola uang milik investornya, Juli mengatakan, EGT menyebutkan, uang itu akan diputar untuk orang lain. Belakangan uang itu ternyata dipakai oleh EGT sendiri. Dia kini menghilang dan tidak bisa dihubungi.

Korban dari EGT mengalami kerugian yang beragam. Ada yang rugi belasan juta. Ada pula yang rugi lebih dari Rp 40 juta. Mereka kaget karena mengenal EGT sebagai sosok yang religius. “Dia (EGT) itu orangnya sangat rohani, dia ikut pelayanan di gereja,” tandas Juli.

Ketika dikonfirmasi Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIJ Parjiman meminta masyarakat lebih rasional saat menginvestasikan dananya. Termasuk dengan tidak mudah tergoda dengan imbal hasil yang tidak masuk akal. Terlebih di masa pandemi Covid-19 ini dengan bujuk rayu cepat kembali uanganya. “Sebulan dijanjikan dapat imbal hasil 10 persen, mana ada usaha seperti itu, mayoritas itu bohong,” jelasnya.

Untuk itu Parjiman juga meminta masyarakat bisa menginvestasikan dananya ke industri jasa keuangan yang jelas. Seperti deposito atau tabungan. Untuk memastikan keabsahan perusahaan jasa keuangannya pun, diminta dengan mengecek melalui website OJK. “Kalau perusahaan tidak terdaftar di sana hampir dipastikan bodong, untuk perorangan kami juga memiliki Satgas Waspada Investasi,” tuturnya.

Kriminolog UGM, Suprapto memiliki pandangan tersendiri terhadap fenomena tersebut. Menurut dia, ada dua faktor yang membuat masyarakat masih saja tergiur dengan tawaran investasi yang tidak jelas. Yang pertama adalah faktor internal atau dari dalam diri masyarakat sendiri yang sekarang ini serba sibuk. Hal itu membuat masyarakat lebih memilih segala aktivitas yang praktis. Kemudian, masyarakat disebutnya juga kehilangan daya berpikir secara rasional. “Karena segala sesuatu yang sifatnya online itu susah untuk dikontrol, apalagi ini berkaitan dengan uang,” jelasnya.

Selain itu menurut dia ada pula faktor eksternal dari pemerintah juga seakan membiarkan dengan kejadian ini. Suprapto menyebutkan banyaknya SMS tidak jalas yang masuk ke nomor handphone masyarakat selama ini. (kur/pra)

Jogja Raya