RADAR JOGJA – Sepekan terakhir, hawa panas atau sumuk melanda DIJ dan sekitarnya. Banyak pihak yang mengaitkan itu dengan kenaikan status Gunung Merapi menjadi Siaga.

Hal itu dibantah oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika Jogjakarta, Reni Karningtyas. Menurut dia, hawa panas yang ada justru karena adanya proses penguapan. “Bisa dikatakan ini sedang penguapan untuk pembentukan La Nina itu, sebetulnya ketika memasuki musim kemarau pun tidak selalu tanpa hujan sekalipun kan,” katanya kepada Radar Jogja Jumat(13/11).

Reni juga menjelaskan, hawa panas di DIJ dan sekitarnya saat ini masih ada di tahap wajar. Menurut pemantauan pihaknya, rata-rata suhu ketika siang hari di DIJ dan sekitarnya selalu di bawah 35 derajat celcius. “Kalau sudah di atas 35 derajat itu baru bisa dikatakan ekstrem,” katanya.

Reni menyebut, hawa panas ini akan bertahan paling tidak sampai akhir November. Pada bulan depan, baru mulai akan ada hujan dengan intensitas lebat secara rutin.

Setali tiga uang dengan Reni, dosen Geografi, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY), Eko Teguh menegaskan hawa panas sama sekali tidak ada hubungannya dengan status Gunung Merapi. “Panas tidak ada hubungannya dengan gejala erupsi, panas disebabkan oleh iklim bukan gejala erupsi,” tegasnya.

Hal yang sama juga ditegaskan ahli vulkanologi Surono. Dia tegas menyebut tak ada hubungannya status Siaga Gunung Merapi dengan hawa panas di DIJ. Menurut dia, udara dan tanah adalah penghantar panas yang jelek. Sehingga panas Gunung Merapi tidak mungkin membuat suhu Jogja dan sekitarnya panas. “Silahkan ke Kaliurang yang dekat Gunung Merapi, pasti lebih dingin daripada Malioboro, padahal Kaliurang dekat Merapi,” kata anggota Dewan Riset Nasional, Komisi Teknik: Lingkungan dan Kebencanaan itu.(kur/pra)

Jogja Raya