RADAR JOGJA – Batas administrasi wilayah jadi persoalan penataan sungai d Kota Jogja. Diusulkan pengembangan kawasan sungai yang dipelopori oleh komunitas masyarakat.

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, seperti bantaran sisi barat di Sungai Gajah Wong masuk wilayah kota. Sedangkan bantaran sisi timur masuk wilayah Bantul. Begitu pula di sungai Winanga, bantaran sisi barat masuk wilayah Bantul dan Sleman. Sementara, bantaran sisi timur masuk wilayah Kota Jogja. Karena itu hanya satu sisi bantaran sungai wilayah kota Jogja saja yang masih dilakukan penataan. Sisi lain di luar wilayah belum mampu menjangkau penataan. “Jadi yang perlu itu sebenarnya adalah adanya satu perencanaan pengembangan kawasan sungai yang dipelopori oleh komunitas masyarakat karena tidak dipisahkan oleh batas wilayah,” ujarnya katanya di lokasi penataan skala kawasan Gajah Wong Dermaga Cinta Giwangan Jumat (13/11).

Komunitas masyarakat yang tergabung dalam beberapa komunitas seperti Forsidas di sungai Gajah Wong, FKWA di sungai Winongo dan Pemerdi Kali di sungai Code dapat memiliki perencanaan untuk pembangunan kawasan bantaran sungai. Perencanaan kemudian bisa diajukan untuk penilaian di OPD-OPD terkait. “Punya perencanaan besar dan panjang misalnya 2030-2040,” pintanya.

Pun selama ini, program penataan bantaran sungai di Kota Jogja sendiri sudah dilakukan lebih dari 750 rumah dengan konsep mundur,munggah, madep kali (M3K). “Nah selama ini kan kita Pemkot punya program seperti ini tapi pemerintah lain enggak ada misalnya. Tapi kalau itu menjadi programnya komunitas mungkin kami (pemkot dan pemkab lain) bisa mengakomodasi,” tambahnya.

Sementara, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setprov DIJ Tri Saktiyana mengatakan, penataan bantaran sungai tidak boleh terkotak-kotak oleh batas administrasi wilayah. Selama tujuan penataan untuk mengharmoniskan dan menyambungkan kepentingan masyarakat. “Kami sepakat, tidak boleh ada sekat-sekat wilayah. Tidak boleh ada bataa utara, selatan, barat atau timur. Wilayah bantaran ini merupakan milik warga khususnya bantaran sungai,” katanya.

Mantan Kepala Bappeda Bantul itu menyebut, penataan sungai dinilai penting karena dapat mencerminkan kondisi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Pun puncak ancaman banjir adalah ketika masyarakat tidak memiliki ketahanan tentu energi akan terkuras. Di sisi lain sungai terdapat potensi ekonomi, ketika sungainya bersih maka ada ekonomi pariwisatanya. (wia/pra)

Jogja Raya