RADAR JOGJA – Persiapan menghadapi kemungkinan erupsi Merapi menyusul peningkatan aktivitas vulkanik, terus dilakukan sejumlah pihak. Palang Merah Indonesia (PMI) DIJ dan Basarnas pun menggelar apel untuk mengecek kesiapan mitigasi bencana di Pakem, Sleman, Rabu (11/11).
Ketua PMI DIJ GBPH Prabukusumo bersama Ketua Penanggulangan Bencana PMI Pusat Letjend TNI (Purn) Sumarsono, mengunjungi posko utama tanggap darurat bencana Merapi. Dalam kunjungan ini dilakukan penyerahan secara simbolis dukungan penanganan tanggap darurat erupsi Merapi kepada bupati Sleman.
Untuk membantu perlengkapan pendukung operasi tanggap darurat, PMI menyiapkan satu unit hagglunds atau kendaraan segala medan. Kendaraan ini juga pernah digunakan saat penanganan erupsi Merapi tahun 2010 lalu.
Selain itu, ada truk tangki yang bisa memuat air bersih dengan jumlah banyak. “Tugas PMI adalah membantu pemerintah. Kami bekerja bersama dengan berbagai sektor untuk melayani masyarakat,” jelas Letjend TNI (Purn) Sumarsono.
Hal yang sama juga diungkapkan Bupati Sleman Sri Purnomo. “Kita menghadapi ujian yang berat, namun menjadi ringan jika kita melakukan bersama dengan yang lainnya,” katanya.
Ketua PMI DIJ GBPH Prabukusumo mengungkapkan, pihaknya sudah menyiagakan 400 relawan untuk membantu penanganan tanggap bencana Merapi. Relawan datang dari seluruh penjuru DIJ.
“Relawan adalah garda terdepan PMI. Kami siagakan tiga posko di Sleman yakni Posko Utama PMI Pakem, Posko PMI Cangkringan, dan Posko PMI Turi,” ujar Gusti Prabu, panggilan akrabnya.

Dipercepat, Pemasangan Lampu di Jalur Evakuasi

Pemasangan lampu jalan di jalut evakuasi Srunen hingga Singlar dipercepat oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Sleman. Sekitar 20 lampu jalan akan dipasang di jalur tersebut.
Plt Dishub Sleman Arip Pramana menjelaskan, pemasangan lampu jalan sudah dimulai sejak Selasa (10/11). Pemasangan lampu penerangan dilakukan untuk berjaga jika erupsi terjadi pada malam hari. “Jadi jalan sudah terang sampai bawah,” jelas Arip Rabu (11/11).
Meskipun demikian, yang menjadi prioritas saat ini adalah penerangan di sekitar permukiman. Hanya saja tetap dirasa perlu memberikan penerangan di jalur evakuasi. Mengingat jalur itu adalah wilayah tegalan yang tidak memilki lampu jalan sebelumnya. “Semoga bisa diselesaikan hari ini,” ujarnya.
Selain lampu yang dipasang di jalur Srunen hingga Singlar, Arip mengaku pihaknya juga telah memasang lampu jalan di lima titik di sekitar Padukuhan Plosokerep, Umbulharjo, Cangkringan. Selain itu, penambahan lampu di sekitar Barak Kalurahan Glagaharjo juga dilakukan, serta pemasangan lampu di titik kumpul Kalitengah Lor dan Srunen. “Tak terkecuali di kandang komunal Padukuhan Singlar,” tambahnya.
Pemasanagan lampu jalan juga sempat dilakukan di wilayah Turgo. Tepat sehari sebelum status Gunung Merapi dinaikkan menjadi waspada. Total ada 40 lampu yang telah dipasang Dishub sebagai langkah antisipasi untuk persiapan mitigasi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman Taupiq Wahyudi menyebut pihaknya telah melakukan perbaikan jalur di Padukuhan Srunen dan Singlar. Telah diperbaiki sejak Senin (8/11) perbaikan dilakukan dengan menambal jalan-jalan yang berlubang. “Total yang digarap tidak sampai satu kilometer,” jelasnya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Joko Supriyanto menargetkan akan menyelesaikan pembangunan jalur evakuasi Glagahmalang sampai Banjarsari akhir November. Dengan panjang kurang lebib 2 km, jalur itu belumlah beraspal. “Pengecoran sudah dimulai Senin (8/11),” ungkap Joko.
Sedangkan untuk jalur evakuasi yang rusak dari Padukuhan Kalitengah Lor sampai Srunen, Joko mengaku sudah melakukan penambalan jalan. Untuk perbaikan jalan di wilayah evakuasi telah disiapkan anggaran Rp 2,6 miliar. (kur/eno/laz)

Jogja Raya