RADAR JOGJA – Jumlah pengungsi Merapi dari wilayah Kapanewon Cangkringan, Sleman, terus bertambah. Data di Barak Kalurahan Glagaharjo hingga Selasa (10/11) pukul 19.30 mencapai 203 orang. Setiap harinya, penambahan pengungsi didominasi dari kalangan usia dewasa.
Panewu Cangkringan Suparmono menjelaskan, di hari pertama mengungsi pada Sabtu (7/11) ada 133 orang pengungsi yang terdiri atas kelompok rentan. Dan, tidak ada usia dewasa yang ikut mengungsi saat itu. Sedangkan pada Minggu (8/11) jumlah pengungsi dewasa bertambah 44 orang sehingga total menjadi 177 orang.
Pada Senin (9/11) pengungsi mencapai 198 orang. Dengan pengungsi dewasa bertambah 12 orang dan total pengungsi dewasa menjadi 56 orang. Hingga Senin (10/11) pukul 19.30, total pengungsi di Barak Kalurahan Glagaharjo mencapai 203 orang. “Dengan total orang dewasa 58 orang,” jelas Suparmono Rabu (11/11).
Rabu itu, lanjut Suparmono, dikarenakan kekhawatiran dari masyarakat akibat trauma letusan dahsyat Merapi 10 tahun lalu. Ditambah dengan lingkungan yang mulai sepi karena tetangga berada di pengungsian, membuat masyarakat usia dewasa dan bukan kelompok rentan ikut turun mengungsi.
Saat pagi hari sepertiga hingga seperempat jumlah pengungsi masih kembali ke Kalitengah Lor. Untuk mengurus ternak dan kembali ke pengungsian saat sore hari. “Petugas keamanan juga setiap hari melakukan pantauan ke atas untuk berjaga-jaga,” katanya.
Meskipun tidak ada batasan waktu untuk berada di pengungsian, Suparmono berharap selepas waktu Maghrib masyarakat sudah berada di barak. Kecuali bagi masyarakat yang memang belum waktunya mengungsi, kunjungan bisa dilakukan kapan saja. “Jadi mereka pulang dulu ke atas tidak apa-apa. Sembari menunggu perkembangan dari pemerintah,” ungkapnya.
Sedangkan untuk lansia, masih ada delapan orang yang belum mengungsi. Total lansia di Kalitengah Lor ada 95 orang. Saat ini pihaknya masih melakukan pendataan siapa saja kelompok rentan yang belum berada di pengungsian. “Yang sudah di pengungsian 87 orang,” katanya.
Untuk tetap menjaga pengungsi dari paparan penyakit khususnya Covid-19, Suparmono mengaku penyajian makanan dilakukan dengan cara dibungkus. Hal ini karena penyajian secara prasmanan akan membuat alat makan terpegang banyak warga.
Sedangkan untuk ketersediaan logistik, yang dirasa kurang adalah kebutuhan untuk bayi. Khususnya susu dan vitamin. Oleh karena itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah agar nantinya bantuan dari relawan bisa lebih terarah. Jangan sampai bantuan hanya menumpuk di beberapa item dan tidak terpakai. “Kalau logistik keseluruhan aman. Kemarin pagi ada juga sayur datang dalam jumlah banyak,” ungkapnya. (eno/laz)

Jogja Raya