RADAR JOGJA – Penerapan PSBK juga dilakukan di Kecamatan Banguntapan. Bahkan wilayah dengan jumlah penduduk sekitar 135 ribu jiwa ini ditetapkan sebagai zona merah oleh Pemkab Bantul. Efektif sejak 5 November lalu sampai 18 November.

Namun kegiatan di Banguntapan tidak banyak berubah. Hanya saja, penerapan protokol kesehatan (prokes) diperketat. “Masyarakat Banguntapan tetap diusahakan sehat. Andai ada yang sakit, itu sunatullah. Tapi masyarakat harus tetap jalan, tetap sehat dan tidak boleh lapar. Ekonomi jalan, prokes dipertahankan,” tegas Camat Banguntapan Fauzan Mu’arifin saat ditemui di kantornya, Selasa (9/11).

Pengetatan prokses dilakukan pada kegiatan yang berpotensi menimbulkan kerumunan. Seperti senam masal, pertemuan terbatas, atau pernikahan. Senam masal dan pertemuan terbatas yang awalnya boleh menghadirkan 50 orang, dibatasi hanya 20 saja. Sementara untuk pernikahan dibatasi maksimal 200 orang. Itu pun harus dibagi menjadi dua sesi. “Silakan tetap jalan, yang penting jumlah dibatasi,” sebutnya.

Sementara untuk kegiatan pasar, petugas kembali memperingatkan pengelola. Sebab, pasar mulai beroperasi seperti sebelum adanya pandemi Covid-19. Hanya saja terdapat imbauan terhadap penerapan prokes lebih diperketat. Seperti harus menyediakan tempat cuci tangan dan wajib menggunakan masker.
Dilaporkan, terhitung sampai 9 November sudah sebanyak 206 warga Banguntapan yang terkofirmasi Covid-19. Sebanyak 183 pasien sembuh dan enam pasien meninggal. Saat ini, masih ada 17 warga Banguntapan yang menjalani perawatan.

Sebaran pasien meliputi delapan desa dan 29 dusun, yaitu enam dusun di Desa Baturetno, 10 dusun di Desa Banguntapan, lima dusun di Desa Tamanan, dua dusun di Desa Singosaren, tiga dusun di Desa Potorono, lima dusun di Desa Jambidan, empat dusun di Desa Wirokerten, dan satu dusun di Desa Jagalan. “Persebaran yang terjadi akhir-akhir ini adalah adanya klaster keluarga dan tempat kerja. Dari total positif, 54 orang atau 27,1 persen karena klaster keluarga,” ungkapnya.

Untuk itu, ia meminta warga Banguntapan jangan terlena dan kendor dalam melaksanakan prokes. Sebab peran serta warga untuk secara disiplin dan penuh kesadaran sangat dibutuhkan. Untuk bersama-sama memutus rantai persebaran Covid-19. “Selalu pakai masker, jaga jarak, hindari kerumunan massa, terapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), tingkatkan stamina tubuh, dan lakukan isolasi mandiri secara disiplin bagi pemudik atau bagi yang mendapat rekomendasi,” pesannya.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan (Dinper) Bantul Sukrisna Dwi Susanta sepakat dengan Fauzan. Penerapan prokes harus mempertimbangkan dampak ekonomi. Sebab, penerapan prokes tanpa pertimbangan dapat menggempur perekonomian. “Saya berharap perekonomian dan penerapan prokes berjalan beriringan,” ucapnya.

Berhentinya kegiatan ekonomi di pasar dan swalayan dikhawatirkan menimbulkan kelangkaan barang. Efek selanjutnya adalah terjadi inflasi. Dinper pun membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pendisiplinan Prokes Covid-19. Untuk menjaga prokes benar dilaksanakan di pasar dan swalayan. Satgas ini berkoordinasi dengan Satpol PP dan Polres Bantul.

Mereka ditugaskan di pasar tradisional, untuk mengecek suhu tubuh pedagang dan pembeli. Satgas juga diklaim menjadi pengawas prokes yang paling dekat dengan masyarakat. Termasuk mengawasi pelaku usaha dalam menjalankan aktivitasnya di pasar. “Satgas bertugas mengingatkan pedagang maupun pengunjung yang beraktivitas di pasar untuk selalu menerapkan prokes,” paparnya.

Sebelumnya, Dinper Bantul pernah membuat pembagian jam operasional pasar sesuai tipenya. Pasar dengan tipe A diperkenankan beroperasi sampai pukul 12.00. Sementara pasar tipe B sampai pukul 11.00. Untuk pasar tipe C hanya diperkenankan sampai pukul 10.00.

“Tetapi sudah sekitar dua bulan kembali normal lagi, sejak adanya Peraturan Bupati Bantul 79/2020 tentang Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) Protokol Kesehatan Pencegahan Covid-19,” ungkapnya.

Ketua Pengurus Pasar Bantengan di Wonocatur, Banguntapan, Bantul, Eko Sudaryanto menyebut, pasarnya sudah beroperasi layaknya normal, sejak diberlakukannya AKB. Dan masih berlangsung seperti itu, sampai kemarin, kendati Banguntapan sudah ditetapkan sebagai zona merah sejak Senin (2/11). “Operasional pasar masih biasa dari pukul 06.00 sampai 14.00, sudah new normal,” cetusnya.

Eko berdalih, kawasan zona merah hanya terjadi di beberapa desa. Tidak secara umum di Kecamatan Banguntapan. Kendati begitu, pengurus pasar menyediakan tempat cuci tangan. Pedagang pun terus diingatkan untuk menggunakan masker. “Karena sering ada sidak juga. Kalau disinfektan belum ada. Kami juga belum mengajukan ke dinas terkait,” ujarnya. (cr2/laz)

Jogja Raya