RADAR JOGJA – Selain PKL dan pemilik toko di kawasan Malioboro, warung makan dan kelontong di beberapa jalan penyangga yang diubah menjadi searah, juga mengeluh sepi. Di antaranya di Jalan Letjen Suprapto.

Apalagi selama uji coba ini Jalan Letjen Suprapto, dari Gedongtengen sampai Ngampilan, dilarang parkir di tepi jalan umum. Kondisi itu dikeluhkan membuat para pelanggan, terutama yang naik mobil, kesulitan untuk parkir.

Salah satu penjual soto lenthok Lamongan di Ngampilan, yang akrab disapa Pak Gendhut mengatakan omset yang didapat turun drastis sekitar 50 persen selama uji coba berlangsung. Padahal selama jalur masih dua arah omset penjualan mulai pulih selama pandemi Covid-19. Karena masih terselamatkan dengan pembeli dari arah jalur selatan. “Mau sepekan ini (uji coba) ya hancur-hancuran, omzet turun drastis,” katanya kepada Radar Jogja Minggu (8/11).

Pria 38 tahun itu menyebut, omzet yang didapatkan mengalami penurunan signifikan sekitar 50 persen. Biasanya, meski masih masa pandemi ini omset yang diterima pada hari-hari biasa sebelumnya mencapai Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta per hari. Saat ini hanya Rp 300 sampai Rp 400 ribu per hari. Jika Minggu bisa capai Rp 1,5 juta namum sekarang hanya Rp 500 ribu. Dalam sehari itu, jualannya buka pukul 05.30-13.00. “Pelanggan yang biasa ke sini dari arah selatan tidak kelihatan yang masuk ke sini lagi. Lapak saya apalagi di sisi barat jalan. Paling banyak yang mampir dari arah selatan,” ujarnya.

Kendati dia mendukung langkah pemerintah untuk menjadikan kawasan Malioboro sebagai kawasan pedestrian. Namun, muncul kekhawatiran jika penerapan jalur satu arah benar-benar permanen dilakukan. “Ya kalau itu kami mendukung, tapi jangan sampai kami dikorbankan seperti ini pemasukan malah menurun,” sambungnya.

Selain efek omzet menurun juga dikeluhkan uji coba jalur searah tersebut menjadikan Jalan Letjen Suprapto menjadi jalur cepat. “Mobil, bus larinya enggak ada yang pelan kencang semua itu juga mengkhawatirkan masyarakat setempat,” jelasnya.

Sementara, penjual lotek dan gado-gado, Siti Fatimah juga mengeluhkan hal senada. Warga Notoyudan itu mengalami penurunan omset 50 persen juga. Selama uji coba berlangsung pendapatan yang diterima hanya Rp 200 ribu. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkn masa pandemi yang mencapai Rp 400 ribu. Sedangkan sebelum masa pandemi mencapai Rp 700 ribu per hari. “Udah mau bangkit sejak korona tapi jatuh lagi. Ada seperti ini malah ngluwihi korona,” tuturnya.  “Kemarin sampai enggak belanja lagi masih utuh cuma buang sayurannya aja. Masih bisalah belanja lagi walaupun sedikit,” tambahnya.

Warung yang sudah berdiri sejak 1996 silam itu juga biasanya dalam kondisi normal bisa menyediakan sampai 70 porsi. Selama pandemi persediaan menurun 50 persen. “Sekarang setengahnya lagi dari sejak korona itu. Saya bisa belanja lebih, tapi guwang e le angel,” kata Ibu tiga anak itu.

Pelanggan biasanya yang dari arah selatan, juga jarang terlihat datang ke warung yang juga terletak di sisi barat jalan. “Saya harapannya nggak usah satu arah tapi kembali semula. Podo wae mateni rezeki orang, mateni rakyat kecil. Udah susah dibikin susah lagi,” gerutunya.

Berbeda, dengan salah satu penjual soto lain yang namanya tidak mau dikorankan mengatakan selama penerapan uji coba satu arah itu tidak terlalu berdampak signifikan. Pelanggan yang berdatangan ke warung yang berada di lajur jalan sisi timur itu biasanya lebih banyak dari warga sekitar, karyawan puskesmas Gedong Tengen atau tamu-tamu hotel. Ada sedikit diantaranya dari pengendara yang melintas tapi masih dalam satu lajur. “Gak begitu terasa sepi atau enggak laku. Biasa saja mesti selalu aja ada pembeli,” ucapnya.  Hanya, kemacetan yang dirasakan setiap jam masyarakat akan berangkat dan pulang kantor di hari-hari biasa. “Cuma pas jam kantor macetnya, satu arah juga naiknya kenceng-kenceng,” jelasnya. (wia/pra)

Jogja Raya