RADAR JOGJA – Siang itu Dusun Gemer, Ngargomulyo, Dukun, Kabupaten Magelang, sedikit mendung. Gunung Merapi bersembunyi di balik kabut. Ya, Merapi nan molek itu dalam status siaga. Sebagian warga yang masuk kelompok rentan sudah mengungsi,  namun sebagian lagi masih beraktivitas normal.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Mungkid, Radar Jogja

Dusun Gemer merupakan kawasan rawan bencana (KRB) III. Dusun ini merupakan dusun tertinggi di Desa Ngargomulyo. Berlokasi sekitar 7 kilometer dari puncak Merapi. Sebanyak 43 orang kelompok rentan, meliputi ibu hamil, balita dan lansia di dusun ini sudah dievakuasi ke lapangan futsal DesaTamanagung, Muntilan.

Namun sebagian warga masih produktif. Mereka beraktivitas seperti biasa, bertani dan berladang. “Perasaan takut pasti ada. Kami menunggu aba-aba pemerintah,” ujar Sri Sampir, 53, warga setempat.

Meski aktivitas Merapi dalam status level tiga, dia masih tetap menjalankan aktivitasnya. Berladang dan mencari rumput untuk kambingnya. Nah, jika dirasa kondisi makin memburuk seperti bau belerang menyengat, suara gemuruh semakin lantang terdengar, hewan-hewan bergerak ke bawah dan terjadi hujan abu vulkanik, maka saat itulah harus segera mengungsi.

Menurutnya, sudah menjadi hal biasa bagi warga yang bermukim di lereng Merapi suatu saat harus mengungsi. Kendati begitu, persiapan telah dia lakukan. Di antaranya dengan mengemas baju dan mengamankan surat-surat berharga agar tidak rusak saat terjadi bencana.

Senada disampaikan Ruwet, 50, warga setempat. Menurutnya, aktivitas Merapi sedikit landai dibandingkan menjelang letusan dahsyat 2010 lalu. Merapi memuntahkan awan panas dan material begitu banyak. Dibarengi getaran  dan suara gemuruh yang begitu cepat, sehingga tak ada persiapan matang.

“Saat ini sudah disiapkan mobil pikap. Jika sewaktu-waktu bahaya datang, warga tinggal naik ke pikap untuk turun,”  ungkapnya sembari menunjuk mobil pikap yang terpakir di tepi jalan desa tersebut.

Dia menggambarkan kondisi Merapi saat njebluk 10 tahun silam, diawali dengan tanda-tanda suhu panas. Kemudian banyak babi hutan dan kera bermunculan dari hutan lindung yang berjarak sekitar satu kilometer dari dusun itu. Saat itu rumah penduduk diselimuti abu tebal. Banyak korban berjatuhan dan ternak yang mati. (laz)

Jogja Raya