RADAR JOGJA – Masa uji coba semipedestrian kawasan Malioboro memasuki saat weekend. Kendati mulai dipadati wisatawan, pelaku usaha belum merasakan dampak peningkatan ekonomi yang berarti.

Pantauan Radar Jogja, Minggu siang (8/11), kawasan Malioboro tergolong ramai pejalan kaki. Pesepeda yang biasa memadati kawasan itu justru terlihat minim. Mayoritas wisatawan masuk dari sisi utara Malioboro, berjalan menyusuri kawasan itu ke arah selatan. Sejumlah wisatawan juga memanfaatkan jasa kusir andong dan tukang becak untuk mengunjungi kawasan oleh-oleh dan pasar Beringharjo.

Salah seorang wisatawan, Suci menyebut, rasa penasaran membuatnya ingin mengunjungi kawasan Malioboro. “Penasaran suasananya. Nggak papa jalan agak jauh sekalian mau jalan-jalan. Tadi parkir di ABA (Abu Bakar Ali),” ungkap wisatawan asal Bogor ini.

Tujuan wanita 45 tahun itu menyambangi Malioboro adalah sekedar melihat suasana, bukan berbelanja. Terlebih karena steril dari kendaraan bermotor, membuat wisatawan merasa nyaman saat berkunjung.

Pedagang warung lesehan yang biasa berjualan di dekat kantor DPRD DIJ, Marni mengungkapkan, wisatawan mulai ramai mengunjungi Malioboro sejak Sabtu lalu. “Kalau orang lewat sih banyak tapi yang jajan dan mampir berkurang,” paparnya.

Walaupun tergolong ramai, bila dibandingkan sebelum masa uji coba, tingkat kepadatannya sedikit lebih rendah. Marni menduga karena minimnya kantong parkir membuat wisatawan malas berkunjung. “Kalau hari biasa jalan ditutup agak berkurang lah. Kalau di Malioboro ramainya Sabtu dan Minggu kalau hari biasa. Kalau tanggal merah kadang ramai kadang enggak,” tuturnya.

Marni mengusulkan agar pemberlakuan kawasan pedestrian ditiadakan. Sebab kebijakan itu dikhawatirkan akan terus menggerus pendapatannya. Terlebih di hari-hari biasa, kawasan Malioboro kini menjadi lebih sepi.”Kalau disuruh milih ya enggak usah ada (uji coba) ini aja. Kalau jalan dibuka dan ada parkiran kan agak ramai. Kalau hari biasa lebih sepi lagi ini, karena Minggu saja ramai,” jelasnya.

Sedang bagi kusir Andong Wanto, pemberlakuan uji coba tidak terlalu berpengaruh terhadap penghasilannya. Menurutnya, kondisi saat ini tak jauh berbeda dibandingkan di saat skema uji coba belum diberlakukan.”Yang makai andong masih biasa, enggak ramai enggak sepi tapi ada (penumpang). (Hari) Minggu ini lumayan, pokoknya dari pertama pedestrian udah lumayan,” jelasnya saat menunggu penumpang di Jalan Malioboro.

Dalam sehari, dirinya bisa mendapat sekitar satu hingga tiga permintaan. Jumlah itu tak mengalami peningkatan saat uji coba diberlakukan. Walaupun, Malioboro mulai dipadati wisatawan sejak Jumat (6/11) lalu. “Paling banyak kemarin tiga kali sehari. Itu waktu hari Kamis. Kalau dari hari pertama (uji coba) itu satu kali dua kali. Ya pokoknya ada penghasilan,” jelas pria 40 tahun itu.

Secara pribadi, Wanto mendukung pemberlakuan kawasan pedestrian Malioboro. Sebab, kondisi jalan yang sepi dari kendaraan bermotor membuat kusir andong nyaman saat mencari penumpang. “Kalau saya sendiri setuju pedesterian. Soalnya jalan juga enggak terlalu ribet. Pejalan kaki juga kayaknya merasa nyaman,” jelas warga Pleret, Bantul ini.

Kedatangan wisatawan juga mulai dirasakan juru parkir di Taman Parkir ABA. Menurut juru parkir ABA Walidi (66), siang Minggu (8/11) jumlah kendaraan yang parkir mulai meningkat. “Lagi mulai tengah hari ini. Lumayan mulai tambah,” jelasnya.

Di masa awal pemberlakuan uji coba, jumlah kendaraan yang parkir tergolong sedikit. Hanya ada sekitar 30-25 saat dia berjaga sejak siang hari. Dibadningkan Minggu lalu, sudah ada sekitar 150 an kendaraan yang parkir di parkiran ABA pada pertengahan hari. “Lumayan tapi tidak sampai penuh,” jelasnya.

Sedang Plt Kepala Dinas Perhubungan DIJ Ni Made Dwi Panti Indrayanti menyatakan, hasil uji coba ini akan dibuat formula yang tepat untuk pengelolaan Malioboro. Tidak hanya dilihat dari sisi perekonomian, namun juga dari sisi transportasi.“Selama empat hari uji coba, kami melihat masyarakat masih kaget. Masih ada insiden-insiden,” ungkapnya saat ditemui di DPRD DIJ Sabtu (7/11). (tor/pra)

Jogja Raya