RADAR JOGJA – Komunitas Kawasan Malioboro menganggap uji coba semi pedestrian di Kawasan Malioboro selama dua pekan tidak tepat. Terlebih di masa pandemi Covid-19.

Humas Komunitas Malioboro Paul Zulkarnaen menjelaskan, selama empat hingga lima bulan para pedagang di Malioboro sudah sangat terdampak pandemi Covid-19 yang menyebabkan sepi pengunjung. Dia menilai penutupan jalan untuk kendaraan justru mempersulit keadaan, karena selain semakin sepi, beberapa pedagang juga menjadi lebih sulit mengangkut dagangan.

“Monggo lah diterapkan, tetapi harus dipikirkan, apakah ada parkirnya, apakah ada yang perlu diperbaiki. Kami lihat tidak ada,” jelasnya, Sabtu (7/11).

Untuk itu pihaknya meminta dispensasi kendaraan roda empat milik pedagang boleh masuk Malioboro dan menurunkan barang.

Paul mengklaim Malioboro sangat layak untuk dikunjungi wisatawan. Karena sebanyak 22 paguyuban yang ada di Malioboro selalu diimbau menerapkan standar protokol kesehatan Covid-19.

“Tolonglah digemborkan Malioboro harus dikunjungi,” harapnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dishub DIJ Ni Made Dwi Panti Indrayanti menyatakan, hasil uji coba ini akan dibuat formula yang tepat untuk pengelolaan Malioboro. Tidak hanya dilihat dari sisi perekonomian, namun juga dari sisi transportasi.

“Selama empat hari uji coba, kami melihat masyarakat masih kaget. Masih ada insiden-insiden,” ungkapnya.

Selama uji coba pihaknya menerima banyak masukan, termasuk terkait loading barang PKL. Kendati demikian Pemerintah Kota Jogja sudah pernah mengeluarkan kartu pass bagi PKL untuk itu.

“Mungkin nanti bisa diterapkan, diatur juga jam berapa untuk loading,” katanya.

Sementara itu Wakil Ketua DPRD DIJ Huda Tri Yudiana mengakui, meski wisatawan senang dengan uji coba ini, PKL dan pedagang umumnya merasa dirugikan, karena semakin sedikitnya transaksi perdagangan.

“Golnya adalah bagaimana wisatawan ramai, perekonomian juga. Evaluasinya perlu kita perbaiki ke depan, termasuk transportasinya, karena mau masuk Malioboro menjadi sulit,” ujarnya.

Huda menegaskan, semestinya ada kebijakan yang signifikan dan komprehensif terkait Malioboro.

“Kalau mau sekalian ditata juga sistem transportasinya, termasuk untuk becak dan becak motor,” katanya.

Dia mengusulkan, becak motor sebagai angkutan wisata diganti dengan mesin listrik agar tidak melanggar aturan.

“Tetap dikayuh tapi pakai listrik juga,” ujarnya. (sky/tif)

Jogja Raya