RADAR JOGJA – Di masa uji coba semi pedestrian di kawasan Malioboro, para pedagang kaki lima (PKL) meminta program ini diterapkan di waktu-waktu tertentu saja, misalnya sore hari. Salah satu pedagang Malioboro bernama Yuyun mengatakan, selama uji coba sejak Selasa (3/11) tokonya sepi pengunjung.

“Lha gimana mau ramai. sejak pagi tidak ada orang yang mau jalan-jalan ke Malioboro,” ujarnya.

Menurutnya, lebih baik jika larangan kendaraan bermotor di Malioboro berlaku mulai sore hari hingga tengah malam. Dengan demikian, ada orang yang lewat dan pedagang bisa menyiapkan jualannya.

“Malioboro sepi karena banyak pengunjung yang tidak mau parkir kendaraan di tempat yang disediakan karena kejauhan,” ujarnya.

Jauhnya tempat parkir, kata Yuyun, juga dikeluhkan oleh beberapa pedagang yang rumahnya menyatu dengan toko. 

“Mereka kesulitan masuk, sempat ada tetangga yang tidak bisa jalan tetap diminta jalan oleh petugas karena kendaraan tidak boleh masuk,” ujarnya. 

Yuyun menambahkan, kondisi saat ini jauh lebih sepi dibanding situasi sehari-hari di masa pandemi.

“Biasanya meskipun bukan hari libur, jam segini sudah hampir habis. Ini kurang dari separuh yang baru terjual. mohon dipikirkan ulang, bagaimana agar Malioboro tidak seperti ini,” harapnya.

Wakil Ketua DPRD DIJ Huda Tri Yudiana mengatakan, pihaknya terus meminta Pemprov DIJ dan Pemkot Jogja untuk mengevaluasi program semi pedestrian, mengingat banyaknya keluhan dari pedagang.

“Tadi sempat ada yang meminta sistem parkirnya lebih dekat ke Malioboro, lalu penambahan jalur lintas yang tidak memutar terlalu jauh. Bagi wisatawan, pedestrian ini menarik, namun pedagang malah merugi,” katanya, Kamis (5/11).

Menurut Huda,  evaluasi segera diperlukan untuk menempuh langkah-langkah komprehensif selama dua pekan uji coba. 

“Bagaimanapun sebagai ikon Jogja, tujuan pedestrian ini untuk menjadikan Semakin semakin ramai dan pedagang turut menikmati,” ujar politisi PKS ini. (sky/tif)

Jogja Raya