RADAR JOGJA – Gunung Merapi mengalami peningkatan status dari level II atau waspada menjadi level III atau siaga. Balai Penelitian dan Pengembang Tehnologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta menyimpulkan, aktivitas vulkanik saat ini dapat berlanjut ke erupsi yang membahayakan penduduk.

Kepala BPPTKG Jogjakarta Hanik Humaidah menjelaskan, sebelumnya Merapi telah berstatus waspada sejak mengalami letusan eksplosif pada 21 Juni lalu. Di awal November, aktivitas vulkanik terus meningkat. Terjadi gempa vulkanik dangkal (VB) rata-rata sebanyak 29 kali per hari, gempa fase banyak (MP) 272 kali per hari, serta guguran (RF) 57 kali sehari.

Berdasarkan data pemantauan itu, saat ini dianggap telah melampaui kondisi menjelang munculnya kubah lava sebelum erupsi Merapi pada 26 April 2006. Namun aktivitas vulkanik saat ini masih lebih rendah bila dibandingkan kondisi sebelum erupsi dahsyat Merapi tahun 2010 atau 10 tahun lalu.

“Sampai saat ini kegempaan dan deformasi masih terus meningkat. Berdasarkan hal tersebut dimungkinkan terjadi proses ekstrusi magma secara cepat atau letusan eksplosif,” jelas Hanik kepada wartawan kemarin (5/11).

Dengan ditetapkannya status siaga, BPPTKG juga telah menetapkan kawasan rawan bencana (KRB) pada 12 desa dan 30 dusun yang tersebar di DIJ dan Jawa Tengah. Radius KRB juga diperluas dari 3 km menjadi 5 km dari puncak Merapi.

Untuk DIJ, kawasan rawan berada di Dusun Kalitengah Lor, Kaliadem, dan Pelemsari di Kecamatan Cangkringan, Sleman. Adapun Jawa Tengah terdapat di Dusun Ngargomulyo, Krinjung, Paten, Tlogolele, Klakah, Jrakah, Tegal Mulyo, Sidorejo, dan Balerante. “KRB berjarak maksimum 5 km dari puncak. Namun tidak seluruh KRB masuk zona bahaya,” tuturnya.

Hanik merekomendasikan agar segala aktivitas pendakian hingga penambangan di alur-alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi untuk dihentikan. Pemerintah daerah juga perlu menyiapkan upaya mitigasi karena bencana bisa terjadi setiap saat. “Kita lakukan sesuai protap perdanya,” jelasnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Biwara Yuswantana menjelaskan, menurut protokol tetap kebencanaan, bila telah mencapai status siaga maka perlu dilakukan evakuasi kepada kelompok rentan. Menurutnya, di Dusun Kalitengah yang merupakan dusun tertinggi di lereng Merapi terdapat sekitar 150-200 penduduk yang tergolong sebagai kelompok rentan. “Tapi masih menunggu pencermatan dan  kebijakan dari Pemkab Sleman, kami masih koordinasi,” paparnya saat dihubungi.

BPBD juga memperhitungkan kesiapan barak pengungsian di tengah situasi pandemi Covid-19. “Kan harus memperhitungkan prokes. Misalnya apakah (pengungsi) perlu rapid test atau tidak, itu jadi hal yang perlu kami bahas,” jelasnya.

Menanggapi peningkatan status Gunung Merapi, Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X meminta kepada warga yang bermukim di sekitar Gunung Merapi untuk meningkatkan kewaspadaan. Sedangkan masyarakat yang jauh dari Merapi diimbau untuk tidak panik.

“Memperhatikan bahwa Merapi sudah ditingkatkan statusnya dari waspada dan siaga, harapan saya Pemkab Sleman juga menyiapkan jalur evakuasi dan untuk persiapan siaga,” jelasnya. (tor/laz)

Jogja Raya