RADAR JOGJA – Pengungsian sesuai kontijensi bencana Merapi akan dilakukan bertahap, dengan mendahulukan kelompok rentan dan hewan ternak. Kepala Pelaksana BPBD Sleman Joko Supriyanto menuturkan, kelompok rentan seperti orang tua lanjut usia, anak-anak, difabel serta hewan ternak akan diungsikan lebih dahulu.

Dari tiga padukuhan yang ada dalam radius 5 kilometer dari Merapi, masih ada 160 kelompok rentan di Kalitengah Lor, Cangkringan. Tidak seluruhnya diungsikan ke barak. Ada beberapa warga yang sudah memiliki rumah lainnya.

Sementara untuk dua padukuhan lain, di Pelemsari masih ada dua keluarga yang menetap. Hanya saja mereka juga sudah memiliki rumah lain di huntap. Sedangkan di Kaliadem sudah tidak ada yang tinggal. “Tinggal bangunan dan ternak. Untuk ternak akan kami ungsikan nantinya,” ujar Joko.

Tercatat ada 12 unit barak yang dikelola oleh BPBD Sleman dan akan ditopang pula oleh barak milik kalurahan sebanyak 22 unit, meliputi gedung sekolah dan balai kalurahan. “Purwobinangun, Glagaharjo, Kepuharjo, terutama kalurahan yang berada di ring atas, sudah punya barak,” tambah Joko.

Panewu Cangkringan Suparmono menuturkan, pihak kapanewon sudah berkoordinasi dengan unit pelaksana kesiapsiagaan bencana Argomulyo. Khususnya terkait kesiapan barak Gayam untuk digunakan oleh kelompok rentan dari Kalitengah Lor. Di kawasan terdampak wilayah Umbulharjo dan Kepuharjo, sudah tidak ada warga.

Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri masih ada sejumlah warga yang biasanya ingin mengungsi ke barak terdekat, yang lokasinya dekat dengan Balai Kalurahan Glagaharjo. Sedangkan untuk hewan ternak nantinya akan diungsikan di lapangan tak jauh dari sana.

Suparmono mengaku, mulai hari ini (6/11) Balai Kalurahan Glagaharjo sudah disiapkan sebagai lokasi pengungsian. Meskipun demikian, kapan waktu mengungsi, ia masih menunggu instruksi dari Pemkab Sleman. Dengan prioritas utama adalah kelompok rentan.

Di Barak Pengungsian Tetap Perhatikan Prokes

Untuk persiapan dan kesiapsiagaan, BPBD Sleman mulai menargetkan perbaikan di jalur evakuasi. Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Sleman Joko Lelono menjelaskan, masih ada beberapa titik di jalur evakuasi yang kondisinya sangat memprihatinkan. Yakni jalur evakuasi Banjarsari hingga Srunen.

Selain itu, kerusakan paling parah juga terjadi di jalur evakuasi Gadingan hingga Singlar. “Kami upayakan pekan depan dicor,” jelas Joko Kamis (5/11). Ia menyebut, untuk pagu anggaran perbaikan jalur evakuasi sebesar Rp 650 juta.

Joko berhara, perbaikan jalur evakuasi nantinya bisa dimanfaatkan oleh warga lereng Merapi saat dibutuhkan. Selain perbaikan jalur, ia mengaku telah memeriksa ulang data masyarakat di kawasan Merapi. Data yang ada, untuk persiapan penggunaan barak sebagai lokasi pengungsian. “Terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan 5 km dari puncak Merapi,” tambahnya.

Untuk barak di Gayam akan ditopang dengan gedung SD Bronggang dan SMP Sunan Kalijaga yang bisa menampung 300 warga. Adanya pandemi Covid-19 juga membuat BPBD Sleman menerapkan sekat-sekat pada pengungsian untuk setiap keluarga agar bisa tetap menjaga jarak. “Untuk masker ada sekitar 90.000 masker,” lanjutnya.

Salah seorang warga Padukuhan Turgo, Purwobinangun, Indra Baskoro mengaku jalur evakuasi di Turgo dalam kondisi baik dan layak digunakan. Selain itu, juga ada lampu penerangan dan Lapangan Jetis juga dalam kondisi baik.

Sudah ada kesepakatan, lanjut Indra, untuk status siaga akan ada evakuasi terbatas di wilayahnya. Yakni untuk kalangan rentan dan hewan ternak. Serta ronda malam juga akan rutin dilakukan.

“Warga sudah memiliki SOP. Saat ada erupsi freatik, akan langsung mengungsi ke titik evakuasi Lapangan Jetis dengan membawa tas siaga,” kata Indra yang juga praktisi penanggulangan bencana Pusat Studi Manajemen Bencana UPNVY.

Masyarakat sendiri akan terus menyimak dan mengikuti informasi resmi dari BPPTKG, BPBD dan TRC. “Setidaknya 300 perumput di Turgo telah mendapatkan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana,” ungkap Indra. (eno/laz)

Jogja Raya