RADAR JOGJA – Gending Ladran Gajah Seno dilantunkan oleh Wargo Laras. Mengantar kepergian Sang Dalang, Ki Seno Nugroho ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Dimakamkan satu liang dengan ayahnya, Ki Suparman, Rabu (4/11).

Pekik pun pecah. Tepat ketika gending rampung dilantunkan. Para sinden dan pengrawit tak mampu lagi menahan tangis. Mereka saling berpelukan. Saling menguatkan. “Sesuk nek aku wes mati, mangkatku tolong dioneke gending iki (Nanti jika aku sudah meninggal, tolong kepergianku diiringi oleh Gending Ladran Gajah Seno),” ucap pemain rebab Wargo Laras Kiswan setengah terisak, meniru Ki Seno. “Wasiatnya 2-3 tahun lalu, mungkin karena dari cengkok dan nada menyentuh hati, enak dirasakan,” imbuhnya.

Gending Ladran Gajah Seno bercerita tentang jejeran, aransemen Joko Winarto atau Joko Porong. Kiswan meminta maaf, “Maaf tadi teman-tidak fokus karena emosi, sedih sudah ditinggal oleh panutan,” ujar pria yang sudah 22 tahun menjadi perebab Ki Seno itu.

Menurut Manajer Ki Seno, Gunawan Widagdo, Ki Seno sempat bersepeda bersama seorang rekan Selasa sore (3/11). Tapi, usai itu, Ki Seno merasa kelelahan dan nyeri. Rekan Ki Seno lantas menghubungi keluarga untuk menjemputnya pulang. Kemudian dibawa ke RS PKU Muhammadiyah Gamping. Saat menunggu dokter ahli jantung, Ki Seno dipindah ke Intensive Coronary Care Unit (ICCU).  Kemudian diketahui, Ki Seno mengalami penyumbatan darah 100 persen dan sudah fatal. “Hingga muntah-muntah dan meninggal pada pukul 22.00,” ujarnya.

Bagi budayawan Butet Kertaradjasa, Ki Seno dianggap sebagai dalang muda yang mempunyai prospek luar biasa. Untuk menjawab masa depan. Secara ilmu kedalangan, banyak yang mengharapkan Ki Seno menjadi pengganti Pak Hadi Sugito. “Celelekane (candaannya), kurang ajar, tapi bisa diterima oleh masyarakat dan audience dunia pakeliran. Sastrane genah (kemampuan sastranya jelas), bagus,” pujinya ditemui saat melayat di rumah duka Rabu (4/11).

Selain itu, Ki Seno mampu menjawab kebutuhan milenial. Sebab Ki Seno, menjadi salah satu dalang yang mulai merespon keajaiban dunia virtual. Program streaming Climen, bagi aktor 58 tahun itu sebagai suatu ikhtiar untuk respon dunia digital ke dunia pewayangan. “Mungkin itu bisa dijadikan satu inspirasi untuk dalang muda yang lain. Menjelajah ruang eksplorasi yang lebih luas di dalam jagat virtual itu,” cetusnya.

Hal itu pula yang dikenang Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi. Setiap pertunjukan selalu ramai para penonton langsung maupun penonton live streaming yang dua channel-nya bisa sampai 20 ribu lebih penonton dunia maya secara live. “Saya kira dialah rajanya live streaming di Indonesia. Yang tiap malam dalam cerita wayang climen atau cerita singkat yang hanya dua jam, bisa dilihat secara live lebih dari delapan ribu penonton,” katanya Rabu (4/11).

HP menyebut, dalang Ki Seno termasuk menginspirasi. Sebab di masa pandemi Covid-19, ketika pertunjukan kesenian masih dibatasi pertunjukkan untuk tidak menghadirkan penonton. Meskipun dengan pertunjukan live streaming dan waktu pertunjukan diringkas hanya dua jam, namun tetap sukses. “Kenapa sukses? Karena hampir tiap malam selama masa pendemi pertunjukan Ki dalang Seno Nugroho banyak di tanggap orang dan selalu dihadiri banyak penggemarnya secara live,” ujarnya.

Anggota Dewan Kebudayaan DIJ Budi Subanar menilai, diperlukan regenerasi untuk mencari Ki Seno yang baru. Apalagi, dalang Seno mampu menyiapkan konsep pertunjukan yang kreatif dalam masa pandemi tanpa meninggalkan roh dari pertunjukkan seni dan budaya itu sendiri. “Ketika situasi seperti ini beliau mampu melampaui wilayah-wilayah batas itu dengan kreasi digital,” ujarnya.

Sedangkan bagi dalang sekaligus Pemilik Museum Wayang Beber Indra Suroinggeno, semangat Ki Seno patutu dicontoh. Utamanya, dalam menyampur wayang Gagrag Jogja dan Gagrag Solo. “Dari sudut pandang saya, itu malah mempersatukan perbedaan. Karena dia menyayikan dua gagrak yang berbeda, saya membacanya itu positif,” paparnya.

Bagi tetangga, Ki Seno adalah orang yang ramah dan aktif kegiatan masyarakat. Salah satunya rasakan oleh Sukarni. Perempuan 40 tahun itu kerap menonton Ki Seno saat tampil secara virtual di rumahnya. “Warga sini diperbolehkan nonton gratis. Kalau sore atau pagi juga sering pit-pitan (bersepeda) dengan warga,” ujarnya. (cr2/wia/pra)

Jogja Raya