RADAR JOGJA – Beberapa ruas jalan penyangga di sekitar kawasan Malioboro diubah menjadi searah, berlawanan dengan arah jarum jam. Salah satunya di Jalan Letjen Suprapto sebagai jalur keluar dari arah utara ke selatan. Sebab, kendaraan bermotor tidak bisa lagi memasuki kawasan Malioboro.

Efeknya, mulai simpang empat Jlagran hingga sepanjang Jalan Letjen Suprapto mengalami kemacetan panjang.  Pantauan Radar Jogja, di simpang Jlagran sempat mengalami kemacetan. Sebab, kendaraan dari arah timur Jalan Pasar Kembang ke barat menjadi satu arah. Sebaliknya, dari arah Jembatan Peta juga berubah satu arah dari barat ke timur.

Kemacetan terjadi saat kendaraan dari timur menuju Jalan Magelang berpapasan dengan kendaraan dari arah barat yang akan menuju jalan yang sama. Kendaraan pun harus bergantian untuk melewati simpang tersebut.

“Saya kaget kok jalannya berubah jadi satu arah dan macet,” ujar salah seorang pengendara, Siti Sugiarti, saat melintas Jalan Letjen Suprapto. Ia melintas di jalan itu dari arah Pingit. Meski awalnya sudah mengetahui rencana akan diadakan uji coba. Akan tetapi, tidak mengetahui waktu pelaksanaannya. “Saya dari rumah mau ke Bantul. Memang setiap mau ke rumah ibu saya lewat sini,” ujarnya.

Tidak memungkiri jika warga Pingit itu merasakan kemacetan panjang di Jalan Letjen Suprapto. Volume kendaraan meningkat yang mengakibatkan kemacetan terjadi dari simpang lampu merah Ngabean hingga ke utara sampai depan SPBU Gedongtengen.

Terpantau tidak sedikit pengendara kebingungan. Ada yang memilih putar balik ketika menemui antrean kendaraan yang panjang itu, baik pengendara roda dua maupun roda empat. Padahal arus jalan sudah searah, pengendara mengabaikan itu. Ada pula yang memilih menembus kemacetan. “Ya jadi riweh ya karena macet gini. Enakan dulu lancar. Tapi, mungkin ini karena baru perdana aja,” tandasnya.

Sementara itu warga Ngampilan, Antung Andriani Siwi, mengatakan efek Jalan Letjen Suprapto berubah menjadi satu arah warung sembakonya jadi sepi pembeli. Biasanya pelanggan dari arah selatan berdatangan. “Pembeli sepi, sing ngedrop barang yo sambat turun di timur jalan,” katanya.

Padahal kondisi jalan itu sudah padat kendaraan. Biasanya pengantar barang-barang sembako berhenti di sisi barat jalan, tepat di depan warung Sari Binangun itu. “Ya kesusahan, kudu nyebrang-nyebrang, tambah muaceeett,” gerutunya.

Adapun pembeli hanya tetangga sekitarnya yang bisa diakses dengan berjalan kaki. Pembeli pelanggan lama tidak bermunculan. Ia pun mengkhawatirkan pelanggannya lari karena kesulitan akses. (wia/laz)

Jogja Raya