RADAR JOGJA – Perkuliahan online berdampak pada tutupnya warung-warung di lingkungan kampus. Hanya saja, pihak kampus tidak bisa berbuat lebih kepada warung yang terdampak.

Kasubbag Humas dan Kerja Sama Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY) Markus Kusnardijanto menjelaskan, beberapa kali warga yang memiliki usaha di wilayah kampus menanyakan kapan dimulainya perkuliahan tatap muka. Didominasi pedagang makanan, Markus mengaku tidak bisa berbuat lebih selain memberikan informasi terkait perkuliahan luring.

“Karena kami juga menunggu keputusan Kemendikbud untuk bisa luring,” kata Markus Senin (2/11). Meskipun demikian, akhir-akhir ini dia sudah banyak menjumpai mahasiswa yang memadati warung-warung di sekitar kampus.

Markus menyebut, dari total 14 ribu lebih mahasiswa yang tercatat di UPNVY, saat ini kurang lebih 60 persen mahasiswa sudah berada di Jogjakarta. Mahasiswa itu yang menganbil praktikum atau perkuliahan lapangan secara daring. “Jadi tidak hanya semester akhir,” tambahnya.

Menurutnya, konsep perkuliahan luring bisa 100 persen nantinya akan dilaksanakan pada 2021. Namun konsep luring jelas akan berbeda dari perkuliahan sebelumnya. Untuk sementara waktu perkuliahan tetap akan dibatasi dengan menjaga protokol kesehatan (prokes).

Jadi perkuliahan tatap muka tidak bisa dilakukan serentak oleh seluruh mahasiswa. Namun pihak kampus akan lebih mengutamakan mahasiswa semester akhir untuk bisa melakukan konsultasi skripsi. “Ke depan akan diatur luring secara bergantian,” ungkapnya.

Sementara itu Kepala Biro Akademik  Universitas Negeri Yogykarta (UNY) Budi Takarina mengaku belum pernah ada masyarakat sekitar kampus yang menanyakan kapan dimulainya perkuliahan luring. Hal ini dinilai karena masyarakat masih khawatir akan adanya persebaran Covid-19.

Namun rencananya kuliah luring akan dilakukan pada semester genap mendatang. Semester gasal akan selesai pada Januari mendatang, Budi mengaku masih akan melakukan evaluasi sesuai kebijakan untuk bisa melaksanakan kuliah luring pada Februari. “Jika kondisi tidak memungkinkan, akan kembali daring lagi,” jelasnya.

Dari jumlah mahasiswa aktif UNY 32.591 orang pada semester gasal 2020/2021, hanya seditkut yang datang ke kampus. Hal itu juga hanya untuk mengurus ujian akhir yang tidak bisa dilakukan secara online. Jika nantinya perkuliahan luring dilakukan, kapasitas ruangan hanya akan diisi 50 persen dari total kursi. Setiap kelas akan dibagi menjadi dua kelas untuk bisa bergantian melakukan perkuliahan luring  “Jadi 50 persen online, 50 persen luring secara bergantian. Dengan kapasitas ruang kuliah yang 40 kursi, akan diisi 20 kursi saat luring,”  tambahnya.

Berbeda, Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Fathul Wahid malah terketuk untuk kampus bisa memberikan solusi kepada masyarakat yang ekonominya terdampak pandemi. Khususnya pelaku usaha kecil menengah (UMKM). Adanya kebijakan physical distancing menuntut UMKM untuk beralih ke kanal digital.

Oleh karena itu, portal warungrakyat.uii.ac.id mulai diluncurkan UII sebagai tempat mangkal daring pelaku ekonomi kerakyatan sejak April lalu. Tidak hanya diperuntukkan bagi usaha yang telah mapan, portal bisa diakses oleh siapa saja, bahkan yang baru merintis usaha.

Sampai saat ini telah ada 545 pedagang yang menjual produknya melalui portal tersebut. “Masuk portal tanpa dipungut biaya. Dan, tidak hanya UMKM di Jogja yang bisa bergabung, namun seluruh Indonesia bisa,” kata Fathul. (eno/laz)

Jogja Raya