RADAR JOGJA – Uji coba semi pedestrian Malioboro yang dimulai hari ini (3/11)  ternyata belum sepenuhnya diketahui oleh warga. Beberapa pengendara kendaraan bermotor masih bingung saat melintas. Terutama di persimpangan kawasan Gardu Anim. Ini karena kawasan Jalan Mataram berlaku satu arah menuju utara.

Perubahan manajemen lalu lintas juga terjadi di sisi barat Gardu Anim. Arus ini sepenuhnya berubah menjadi arah barat. Sementara lajur kendaraan dibawah Jembatan Kleringan sisi barat menjadi dua arah.

“Ini masih penyesuaian karena masih hari pertama. Kalau uji coba selama dua Minggu sampai 15 November. Semoga bisa mendapatkan formula yang pas,” jelas Plt Kepala Dinas Perhubungan DIJ Ni Made Dwi Panti Indrayanti ditemui di Taman Parkir Abu Bakar Ali, Selasa (3/11).

Penumpukan kendaraan juga terlihat di kawasan jalan Letjend Suprapto. Ruas jalan tersebut menjadi satu arah menuju selatan. Penumpukan terjadi karena ruas jalan ini menjadi titik pertemuan antara pengendara dari jalan Pembela Tanah Air, Jalan Pasar Kembang dan dari arah utara.

“Ini giratori penuh dengan berlawanan arah jarum jam. Ada beberapa wilayah yang berlaku satu arah penuh dan berubah total,” katanya.

Manajemen lalu lintas menyesuaikan konsep Malioboro sebagai semi pedestrian. Kendaraan yang boleh melintas hanya becak kayuh, andong, Trans Jogja, kendaraan plat merah dan pengecualian terbatas untuk becak motor (Betor).

Kebijakan ini sebagai upaya uji coba sebelum Malioboro berubah menjadi semi pedestrian sepenuhnya. Uji coba dilakukan untuk mendapatkan formula yang tepat. Terutama dalam pengaturan arus kendaraan bermesin.

“Manajemen ini juga untuk menjawab keluhan kepadatan arus lalulintas. Jadi memang perlu diatur ulang agar tak ada penumpukan di berbagai titik ruas jalan,” ujarnya.

Selain penataan lalu lintas, manajemen ini juga guna mendukung salah satu program Dinas Kebudayaan DIJ. Berupa pengajuan Kawasan Malioboro sebagai bagian dari World Heritage ke UNESCO. Mengangkat nilai-nilai sumbu filosofis yang tercermin dari Panggung Krapyak, Keraton Jogjakarta hingga Tugu Pal Putih.

Walau begitu, Made memastikan pengajuan World Heritage bukanlah alasan utama. Dishub DIJ, lanjutnya, fokus pada manajemen lalulintas. Sementara terhadap pengajuan world heritage, pihaknya sebatas memberikan dukungan.

“Penataan transportasi menjadi salah satu poin penting dalam mendukung fungsi-fungsi yang diharapkan dalam rangka menuju World Heritage. Tapi fokus utama kami tetap di penataan, karena lalulintas memang sudah crowded,” katanya.

Secara umum, uji coba semi pedestrian Malioboro bukan kali ini saja. Upaya penataan telah dilakukan oleh jajaran Dishub Kota Jogja melalui Selasa Wage. Sayangnya formula uji coba tersebut belum optimal.

“Itulah kenapa kami menggelarnya selama 2 minggu. Agar bisa mendapatkan kondisi riil selama satu Minggu penuh. Agar bisa mihat karakteristik lalulintas dari Senin sampai Minggu. Itukan pasti berbeda-beda,” ujarnya. (dwi/tif)

Jogja Raya