RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan minat wisatawan untuk menghabiskan waktu libur panjang dan cuti bersama di Kota Jogja. Termasuk destinasi wisata kawasan Malioboro masih menjadi favorit pelancong.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengakui, dalam liburan kali ini wisatawan memang banyak berlibur ke kota budaya ini. Terbukti, hotel-hotel berbintang maupun nonbintang kapasitas terisi mencapai 95 persen. Efeknya, kawasan Malioboro, Tamansari dan destinasi wisata lain termasuk kuliner, juga dipadati wisatawan.

“Selama liburan lima hari kemarin kunjungan wisatawan meningkat dari hari biasa. Terutama Malioboro mencapai 4.400 lebih yang tercatat dalam QR Code di lima zona dalam satu waktu,” kata HP.

Ini berbeda jauh dari hari-hari biasa yang tercatat dalam QR Code, berkisar 1.000-2.000 pengunjung. Puncaknya terjadi pada Sabtu (31/10). “Selama liburan pelanggaran yang sering ditemui paling banyak penggunaan masker tidak dengan benar, dan tidak bawa masker,”  ujarnya.

Meski begitu, pemkot sudah mengerahkan tim Satgas Covid-19 yg terdiri atas Jogoboro, Satpol PP, Dishub, komunitas, Polri dan TNI. Petugas mengondisikan Malioboro terutama untuk memakai masker, menjaga jarak dan mengurai kerumunan.

“Sebagian besar hanya diingatkan, tapi yang tidak pakai masker diminta tidak masuk ke Malioboro. Ya, masih ada 3-4 orang tidak bawa masker, akibatnya diminta keluar dari Malioboro,” jelasnya.

Terpisah, Ketua BPD Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIJ Deddy Pranowo Eryono mengatakan, okupansi hotel berbintang maupun nonbintang berangsur meningkat selama libur panjang dan cuti bersama kemarin. Ia merinci 70 persen kamar dioperasikan hotel-hotel anggota PHRI DIJ dari 400-an hotel dan restoran yang beroperasi saat pandemi.

Ia menyebut okupansi hotel terus meningkat sejak Rabu (28/10) kapasitas terisi 60 persen, Kamis (29/10) sebanyak 95 persen, Jumat (30/10) 95 persen, Sabtu (31/10) 70 persen dan kemarin (1/11) 50 persen. Puncaknya terjadi pada Kamis (29/10) dan Jumat (30/10). Kebanyakan tamu berasal dari Jateng, Jabar, Jatim, DKI Jakarta, dan Bali. “Prokes sangat ketat kami terapkan. Buktinya ada beberapa tamu yang belum bisa kami terima,” ujarnya.

Beberapa tamu yang ditolak itu tidak lebih dari 10 orang. Meski mereka  terbukti sehat dengan menunjukkan surat bebas Covid-19. Namun tidak serta merta diterima, karena tidak menjalankan prokes lain yaitu pemakaian masker. “Iya kami tolak, nggak kembali lagi entah ke mana karena tidak bermasker. Mekanisme kami cukup sederhana, disiplin sesuai prokes saja cukup. Dari zona merah terutama,”  tambahnya. (wia/laz)

Jogja Raya