RADAR JOGJA – Pemprov DIJ kembali melaksanakan uji coba rekayasa lalu lintas di kawasan Malioboro, Kota Jogja. Selain untuk mewujudkan kawasan pedestrian, juga mendukung upaya pengusulan kawasan sumbu filosofis sebagai warisan budaya dunia UNESCO.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIJ Ni Made Dwi Panti Indrayanti menjelaskan, penerapan rekayasa lalu lintas dilakukan dengan skema giratori atau menjadikan Malioboro sebagai pusat bundaran besar dengan arus kendaraan berlawanan dengan arah jarum jam. Skema dilaksanakan 3- 15 November mendatang.

Lalu lintas satu arah diberlakukan di jalan penyangga yang mengitari kawasan Malioboro. Yakni Jalan Suryotomo, Jalan Mataram, Jalan Abu Bakar Ali, Jalan Pembela Tanah Air, dan Jalan Letjen Suprapto. “Sistem manajemen giratori penuh dengan modifikasi satu arah berlawanan dengan arah jarum jam,” paparnya.

Di Jalan Malioboro, hanya kendaraan tidak bermotor yang boleh melintas. Kecuali bus Trans Jogja, kendaraan kepolisian, layanan kesehatan, pemadam kebakaran, dan patroli. Para pesepeda yang biasanya memadati kawasan Malioboro juga tak diperkenankan berhenti. Sebab, dikhawatirkan menimbulkan kerumunan di tengah pandemi.

“Harapannya memang ini akan mendukung penataan secara tertib transportasi yang menjadi bagian dari rekomendasi, dari dossier tim kebudayaan untuk mendukung kawasan filosofis ini,” tuturnya.

Untuk sirip-sirip Jalan Malioboro seperti Jalan Kemetiran Kidul, Beskalan, Suryatmajan, dan Sosrowijayan, diberlakukan sistem lalu lintas dua arah. Namun, kendaraan dilarang melintas di Jalan Malioboro.

Made menjelaskan, di hari pertama uji coba, Jalan Malioboro akan disterilkan dari kendaraan bermotor pada pukul 11.00  hingga 22.00 . Pada jalan penyangga, pengalihan arus lalu lintas dilaksanakan selama 24 jam penuh.  “Tapi untuk Jalan Malioboro setelah tanggal 3 November pengalihan arus dimulai pukul 06.00 dan 22.00,” paparnya.

Menurutnya, uji coba ini menjadi penting karena Jalan Malioboro sudah terlalu padat. Imbasnya aktivitas wisata dan perekonomian tidak berjalan optimal. Made mencontohkan, wisatawan bisa merasa terganggu akibat kebisingan dan polusi dari kepadatan itu.

“Kondisi sekarang Malioboro adalah pusat ekonomi. Saat ini crowded dan macet, sehingga perlu penanganan rekayasa dan manajemen untuk mendukung fungsi Malioboro yang diharapkan menjadi bagian dari world heritage,” jelasnya.

Made mengaku tak menyiapkan kantong parkir baru selama uji coba diberlakukan. Masyarakat diharapkan bisa memanfaatkan transportasi publik yang tersedia bila ingin berwisata. “Karena seberapa pun ruang parkir yang disiapkan kemungkinan tidak akan bisa memenuhi kebutuhan kantong parkir masyarakat,” urainya.

Di sisi lain, Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PBMY) mengaku keberatan bila kawasan Malioboro disteril dari kendaraan bermotor. Pasalnya, hal itu akan membuat pemasukan pengemudi becak motor semakin menurun. Terlebih, Malioboro menjadi kawasan utama untuk mencari penumpang. Dia meminta agar kebijakan itu ditinjau kembali.

“Penghasilan kami sempat menurun akibat pandemi. Sekarang ada (uji coba) selama dua Minggu. Padahal, Selasa Wage itu yang hanya sehari saja kan sudah berat,” kata Ketua PBMY Parmin.

Bila pengalihan diterapkan, pihaknya menuntut Pemprov DIJ untuk memberikan bantuan subsidi kepada pengemudi becak motor yang disalurkan selama dua pekan. “Kalau tidak, kami harus dicarikan tempat pangkalan agar kami bisa menghasilkan pendapatan,” jelasnya. (tor/laz)

Jogja Raya