RADAR JOGJA – Kunjungan wisatawan ke Kabupaten Gunungkidul membeludak pada libur panjang kemarin. Grafik jumlah pelancong menyamai hari normal sebelum pandemi Covid-19. Hanya dalam waktu empat hari, tercatat pendapatan retribusi tanda masuk hampir Rp 500 juta.

Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Gunungkidul Hary Sukmono mengatakan, sebenarnya tidak ada target kunjungan maupun pendapatan di masa pandemi. Karena konsentrasinya adalah penerapan protokol kesehatan (prokes) untuk meminimalisasi persebaran virus korona.

“Bahkan satu hari dalam sepekan objek wisata diliburkan. Setiap Senin ditutup untuk sterilisasi dan pengecekan sarpras (sarana dan prasarana) protokol kesehatan,” kata Hary saat dihubungi Radar Jogja, Minggu (1/11).

PADAT: Antrean kendaraan menuju pintu masuk Pantai Drini, Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul, (1/11).(GUNAWAN/RADAR JOGJA)

Meski selama ini belum ada klaster dari destinasi wisata, upaya pencegahan wajib dilakukan. Bekerjasama dengan pihak terkait, terus melakukan sosialisasi penerapan prokes saat beraktivitas. Misalnya penggunaan masker, cuci tangan dan jaga jarak aman agar tidak memicu kerumunan. “Berdasarkan data dari Rabu sampai Sabtu kemarin, total ada 53.102 pengunjung dengan pendapatan Rp 413.800.400,” ungkapnya.

Angka tersebut setelah dikroscek dengan data sebelum Covid-19  ternyata sama. Terjadi lonjakan jumlah pengunjung, terutama dengan tujuan wisata pantai. Situasinya jauh berbeda pada saat awal pandemi, Maret-September 2020. “Data sampai 27 Oktober 2020 total PAD wisata Rp 10.801.482.360. Kemudian tercatat 1.392.339 pengunjung,” ucapnya.

Untuk mengondisikan pengunjung di masa pandemi, pihaknya meminta dukungan tambahan personel. Selain dari kepolisian, dukungan juga berasal dari TNI, dinas perhubungan, puskesmas, Tim SAR, dan Satpol PP. “Total personel sekitar 150 orang, dengan rincian 100 personel dari berbagai instansi itu, sementara 50 sisanya dari internal Dispar Gunungkidul,” ungkapnya.

Menurut Harry, dukungan personel dibutuhkan untuk memastikan penerapan prokes di destinasi wisata. Apalagi saat ini masih dalam situasi pandemi.

Sementara itu, jajaran Polres Gunungkidul mengatakan, selama akhir pekan kemarin menerjunkan 138 personel. Mereka ditugaskan melakukan pengamanan selama libur panjang dalam Operasi Zebra Progo 2020. “Selama operasi berlangsung dilakukan penindakan pelanggaran kasat mata,” kata Kapolres AKBP Agus Setiawan.

Dia mengingatkan pengendara agar memperhatikan keselamatan dalam berkendara. Mulai dari penggunaan helm standar, kewajiban menggunakan safety belt, batas kecepatan kendaraan, hingga larangan penggunaan lampu rotator atau strobo.

Minim Tempat Teduh, Kesulitan Jaga Jarak

Dari Kabupaten Magelang dilaporkan, destinasi wisata Svarga Bumi di Desa Ngadirejo, Borobudur, ramai dikunjungi pelancong. Objek wisata (obwis) ini menyuguhkan spot selfie bak Ubud Bali dan menjadi wisata alternatif area terbuka di tengah persawahan.

Kendati demikian, saat diguyur hujan lokasi ini berpotensi mengundang kerumunan para pengunjungnya. “Sebab minimnya ruang berteduh ketika hujan,” kritik wisatawan asal Jogja Banuwati Cahyaningrum, Sabtu (31/10).

Ya, lokasi itu menyuguhkan spot selfie dan payung-payung untuk mempercantik obwis saja. Bukan sebagai ruang teduh saat hujan. Sehingga ruang teduh justru bertumpu di kantin-kantin kecil di lokasi. “Mau gak mau kan ya merapat ke sini (kantin, Red). Udah nggak mikir jaga jarak lagi,” tuturnya.

Menurutnya, rasa khawatir ada. Namun dia mencoba berpikir positif dan terus memakai masker. Mencopot hanya saat hendak foto saja dan memasang kembali saat mulai bersinggungan dengan pengunjung lain.

Perihal jaga jarak, dia berharap pengelola setempat juga mempertimbangkan jumlah ruang teduh. Jangan sampai penerapan prokes yang sejak awal sudah dilaksanakan dengan baik, jadi percuma karena kerumunan sesaat saat terjadi hujan.

Salah seorang owner Svarga Bumi Agung Satriyo mengatakan, terkait hal ini menjadi bahan evaluasi pengelolaan obwis. Pihaknya tak ingin adanya obwis ini justru menjadi penularan Covid-19. Untuk itu berupaya semaksimal mungkin memperketat prokes. Di antaranya, wajib mengenalan masker atau face shield, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak.

Selain itu, screening suhu badan kepada setiap pengunjung. Membuka transaksi elektronik pada pembelian tiket masuk juga sudah dilakukan. “Bahkan kami sudah membatasi jumlah kunjungan 50 persen lebih dari kapasitas lima ribu orang,” kata Agung.

Saat hari biasa kunjungan dibatasi sekitar seribu orang. Saat weekend sekitar dua ribuan pengunjung. Dengan luasan lahan tiga hektare spot selfie dan satu hektare area parkir dan kantin kuliner.

Agung mengakui, perihal jaga jarak memang hal yang paling sulit diterapkan oleh pengunjung. Tidak saja saat hujan, kadang kala pengunjung rombongan datang bergerombol menimbulkan kerumunan. Teguran lisan melalui mikrofon maupun spanduk juga sudah dilakukan.

Upaya lain juga menerapkan antrean. Mengatur pengunjung saat hendak masuk ke area wisata. “Jangan sampai menumpuk pas di objeknya. Kami  hindari itu,” ucapnya.

Pihaknya berjanji ke depan masukan itu akan menjadi bahan pertimbangan pengembangan pengelolaan wisata di tengah pandemi. Dikatakan, obwis ini baru dibuka 8 Agustus lalu. Bekerjasama dengan paguyuban petani setempat. (gun/mel/laz)

Jogja Raya